Surabaya Mulai Program ORI, Wujudkan Masyarakat Bebas Difteri

Yovie Wicaksono - 5 February 2018
Pemberian Imunisasi Difteri kepada Pelajar Surabaya (foto : Humas Pemkot Surabaya)

SR, Surabaya – Pemerintah Kota Surabaya telah membuka program pencanangan Outbreak Response Immunization (ORI) Difteri tahun 2018, melalui gerakan imunisasi secara serentak. Langkah ini sebagai bentuk komitmen Pemkot Surabaya untuk mewujudkan masyarakat yang bebas Difteri, sekaligus respon cepat berkembangnya kasus Difteri di Indonesia.

Pelaksanaan program ORI di Kota Surabaya akan dilaksanakan tiga kali dalam setahun, dimulai pada Februari, Juli dan Desember. Target cakupan ORI Difteri minimal 90 persen setiap putarannya. Jumlah sasaran untuk Kota Surabaya sebanyak 753.498 anak, dimana Pos ORI Difteri akan dilaksanakan di Puskesmas, Posyandu, Rumah Sakit, Sekolah, hingga Perguruan Tinggi.

“Tujuannya untuk memutus mata rantai penularan penyakit Difteri,” kata Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya.

Risma mengatakan, kesadaraan tentang kesehatan dan kesejahteraan tidak perlu menunggu adanya aturan, karena yang dibutuhkan adalah sebuah kesadaran bersama (komunal) untuk sehat secara bersama-sama.

”Mari semua kita dukung, jadi bukan karena adanya program ini (ORI) baru kita gerak, karena ini adalah kepentingan bersama,” kata Risma.

Kebersihan lingkungan yang terjaga dengan baik juga menjadi indikator utama kesehatan masyarakat, selain kesadaran untuk menjaga kesehatan diri sendiri maupun lingkungan.

“Yang akan kita bangun adalah bukan hanya pentingnya imunisasi. Namun, pentingnya menjaga kesehatan untuk diri sendiri dan untuk orang lain,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya Febria Rachmanita mengatakan, Pemkot Surabaya telah menyiapkan 6.677 pos untuk mendukung berjalannya program ORI. Selain itu, Pemkot Surabaya juga telah bekerjasama dengan rumah sakit dan perguruan tinggi, dengan total tenaga vaksinator sebanyak 1.093 orang.

“Kita punya sasaran untuk usia dibawah 19 tahun mencapai sekitar 753.498 anak. Usia 19 tahun kurang dari sehari juga tetap akan kita lakukan imunisasi,” ujar Febria.

Data Dinas Kesehatan Kota Surabaya menyebutkan, kasus difteri di Kota Surabaya sampai dengan tanggal 30 Januari 2018  tercatat ada 17 kasus Difteri klinis. Hasil laboratorium mencatat 1 kasus positif, dan terjadi peningkatan sebesar 46,7 persen dibandingkan dengan bulan Desember 2017, dan sebesar 86,7 persen bila dibandingkan Januari 2017.

Selain itu, cakupan imunisasi lanjutan pada anak usia dibawah dua tahun pada tahun 2017 sebesar 51,13 persen, masih belum mencapai target yang ditentukan yaitu 90 persen. Cakupan Imunisasi DT pada anak usia sekolah dasar saat BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah) kelas satu SD sebesar 93,18 persen dan BIAS Td pada anak kelas dua SD sebesar 93,59 persen dari target yang telah ditetapkan 95 persen. Imunisasi lanjutan balita usia dibawah dua tahun, sejak 2015 ditetapkan menjadi indikator keberhasilan imunisasi. Supaya kekebalan terhadap penyakit di masyarakat semakin tinggi, maka cakupan imunisasi di Kota Surabaya harus tinggi dan merata.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.