Sumbangsih JKN – KIS Bagi Indonesia

Yovie Wicaksono - 21 February 2017
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Fachmi Idris saat memberikan paparan dalam acara Musyawarah Nasional Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Indonesia di Surabaya, Minggu (19/2/2017). (Foto : BPJS Kesehatan)

SR, Surabaya – Program Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) mampu  memberikan dampak yang luar biasa bagi masyarakat Indonesia, khususnya pertumbuhan ekonomi.

Direktur Utama BPJS Kesehatan Fachmi Idris mengatakan, hasil kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat FEB UI di tahun 2016 menyebutkan secara umum JKN – KIS telah berkontribusi sebesar Rp 152,2 triliun terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang di dalamnya mencakup kontribusi terhadap jasa kesehatan pemerintah tahun 2016 sebesar Rp 57,9 triliun, kontribusi terhadap industri produk farmasi sebesar Rp 10,1 triliun, dan kontribusi terhadap industri makanan dan minuman sebesar Rp 17,2 triliun.

JKN – KIS juga berperan menciptakan lapangan kerja bagi 1,45 juta orang, yang terdiri atas 864 ribu orang di sektor jasa kesehatan pemerintah, 27,2 ribu orang di sektor industri produk farmasi, dan 34,1 ribu orang di sektor industri makanan dan minuman.

“Jika diproyeksikan hingga tahun 2021, maka JKN – KIS memberi kontribusi ekonomi sebesar Rp 289 triliun dan menciptakan lapangan kerja bagi 2,26 juta orang,” ujar Fahmi, Selasa (21/2/2017).

Menurut Fachmi, jika dibandingkan negara lain yang menerapkan sistem jaminan sosial, pertumbuhan peserta program jaminan kesehatan di Indonesia terbilang amat pesat. Dalam waktu 3 tahun, program JKN-KIS telah meng-cover hampir 70% dari total penduduk Indonesia.

Berdasarkan data Population Data CIA World Fact Book (2016) dan Carrin G. and James C. (2005), Jerman membutuhkan waktu lebih dari 120 tahun (85% populasi penduduk), Belgia membutuhkan 118 tahun (100% populasi penduduk), Austria memerlukan waktu 79 tahun (99% populasi penduduk), dan Jepang menghabiskan waktu 36 tahun (100% populasi penduduk).

“Hingga 10 Februari 2017, peserta JKN – KIS telah mencapai 174,3 juta jiwa atau hampir 70% dari total penduduk Indonesia. Tidak mudah memang untuk menjalankan amanah yang besar ini. Oleh karena itu, kami berharap tenaga medis, fasilitas kesehatan, pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan stakeholders lainnya dapat memperkuat sinergi untuk menyukseskan implementasi program JKN-KIS yang mulia ini,” katanya.

Sekedar informasi, berdasarkan data un-audited BPJS Kesehatan 2016, terdapat sebanyak 134,9 kunjungan peserta JKN – KIS di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Di tingkat fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan, terdapat 50,4 juta kasus pemanfaatan poliklinik rawat jalan dan 7,6 juta kasus pemanfaatan pelayanan rawat inap di rumah sakit. Jika ditotal, terdapat 192,9 juta pemanfaatan JKN -KIS. (ng/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.