Suhu Permukaan Air Laut Masih Tinggi Jadi Penyebab Petani Garam Gagal Panen

Petrus - 31 July 2017
Prakirawan BMKG Banyuwangi Yustoto Windiarto (foto : Superradio/Fransiscus Wawan)

SR, Banyuwangi – Masih tingginya suhu permukaan air laut akibat pergantian musim dari musim penghujan ke musin kemarau, menjadi salah satu penyebab gagalnya petani garam di wilayah utara pantai Banyuwangi sampai ke pulau Madura.

Tinginya suhu udara permukaan laut ini, dapat menimbulkan gumpalan awan yang membawa uap air, sehingga hujan masih sering terjadi di wilayah Banyuwangi hingga perairan Madura.

Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Banyuwangi, Yustoto Windiarto mengatakan, hujan sampai akhir bulan Juli saat ini masih ada, namun peluangnya lebih kecil dibandingkan pada bulan Juni hingga pertengahan Juli 2017.

“Hal tersebut disebabkan masih tingginya penguapan air laut akibat dari tingginya suhu permukaan air laut yang bisa menimbulkan gumpalan awan,” ujar Yustoto, Senin (31/7/2017)

Dijelaskan oleh Yustoto, musim kemarau pada tahun 2017 ini lebih pendek dibandingkan dengan tahun 2016 lalu. Hal ini dibuktikan pada bulan Juni hingga Juli masih terdapat curah hujan, meskipun tidak sederas dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Menurutnya, musim kemarau pada tahun 2017 ini diprediksi hanya sampai bulan November. Sehingga dengan sempitnya waktu musim kemarau ini, diharapkan para petani garam bisa memanfaatkan musim kemarau pada tahun 2017 ini.

“Ini sangat mempengaruhi produksi dari petani garam. Karena dengan musim kemarau yang masih terdapat hujan ini, bisa menjadikan mereka gagal panen,” tandasnya.(wan/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.