Stop Buang Sampah Popok di Sungai

Yovie Wicaksono - 1 August 2018

SR, Surabaya – Replika ikan berukuran 6 meter dengan bekas popok sekali pakai yang keluar dari mulut terpajang di depan Monumen Gubernur Suryo di kompleks Taman Apsari,  Jalan Gubernur Soeryo, Surabaya, Selasa (31/7/2018).

Melalui replika ikan tersebut, aktivis lingkungan dari Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) dan sejumlah mahasiswa ingin menunjukkan bahwa sampah popok yang dibuang di sungai selain mencemari air, juga menyebabkan ikan terkontaminasi limbah plastik.

Masyarakat diharapkan sadar akan bahaya sampah popok dan sampah plastik yang dibuang disungai dan mengganti penggunaan popok sekali pakai dengan popok clodi (popok kain modern) yang lebih ramah lingkungan.

Pihak indusri popok juga diharapkan mulai mengubah desain popok agar lebih ramah lingkungan dan berani harus bertanggung jawab mengenai sampah popoknya yang tidak dikelola dengan baik.

Hasil penelitian dan pembedahan ikan yang dilakukan Ecoton, terdapat microplastik dilambung ikan, yang diduga berasal dari limbah popok yang dibuang di sungai.

Penelitian ini dilakukan Ecoton mulai awal bulan Juli sampai saat ini, dimana mereka mengumpulkan sample ikan dari daerah hulu Sungai Brantas di kawasan Wringinanom, Sungai Mlirip di Mojokerto, sungai dikawasan Gunungsari, hingga sungai yang ada di muara.  Dan temuan microplastik ada di dalam 5 dari 6 perut ikan nila, jendil, rengkik, keting, dan bader.

“Ikan akan mengakumulasi bahan pencemar yang ada di perairan, karena dia sudah terikat di saluran pencernaan, akhirnya tertimbun dalam tubuh ikan, lalu ikan itu kita konsumsi. Efek dari mengkonsumsi ikan tersebut tidak akan langsung kita rasakan, tapi sepuluh atau dua puluh tahun lagi kita akan rasakan, mudah terkena penyakit, mudah terkena kanker, dan penyakit lainnya” kata peneliti Ecoton, Andreas Agus Kristanto Nugroho kepada Super Radio.

Andreas menjelaskan, dalam plastik terdapat Edocrine Disrupting Chemicals (EDC) yaitu substansi yang terdapat di lingkungan, makanan, dan produk industri lain yang dapat mengganggu biosintesis, metabolisme, dan aksi hormon, sehingga mengakibatkan gangguan reproduksi.

“Menstruasi anak-anak perempuan kita semakin ke depan semakin cepat , SD sudah menstruasi. Ini dikarenakan adanya zat EDC yang sudah masuk kedalam tubuh anak kita yang berasal dari zat-zat kimia, salah satunya yang menyerupai plastik tadi, lalu juga dari penggemukan daging, dan lain-lain, akhirnya tubuh anak dipaksa untuk menstruasi lebih awal” tambah Andreas.

Di Sungai Brantas terdapat 47 persen sampah plastik dan 36 persen sampah popok bayi yang dimana 55 persennya mengandung fragment plastik di dalam lambung ikan.

Andreas berharap pemerintah menyedikan tempat penampungan maupun transportasi untuk mengangkut sampah popok sampai ke tempat pembuangan akhir sampah, dan melakukan patroli sungai untuk menegur ataupun menangkap orang yang membuang popok disungai. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.