Stok Pangan di Jatim Aman Selama Ramadhan dan Idul Fitri

Petrus - 27 May 2017
Gubernur Jawa Timur Sorkarwo memberangkatkan truk pengangkut bahan pokok Ramadhan dari gudang Bulog Buduran Sidoarjo (foto : Superradio/Srilambang)

SR, Surabaya – Pemerintah Provinsi Jawa Timur menjamin stok bahan kebutuhan pokok di Jawa Timur aman dan mencukupi, saat memasuki bulan puasa Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Berdasarkan data prognosa pertanian di Jatim, produksi beras bulan Juni 2017 sebanyak 1.030.199 ton. Dengan tingkat konsumsi sebanyak 297.243 ton per bulan, maka beras di Jatim surplus 732.956 ton. Stok beras di gudang Bulog pada April 2017 sebanyak 531 ribu ton dan tersebar di 364 gudang di Jatim.

Sementara itu untuk komiditi gula pasir, berdasarkan data dari pabrik gula di Jawa Timur, stok April 2017 sebanyak 200.773,5 ton dengan konsumsi 50 ribu ton per bulan, sehingga surplus 150.773,5 ton. Berdasarkan data dari gudang Bulog, stok gula bulan April sebanyak 174 ribu ton dan ada di gudang Bulog, Buduran, Sidoarjo.

“Gula kita sangat cukup, harganya stabil di pasar. Untuk kedelai terus didrop. Cabai besar aman untuk tiga bulan, cabai keriting aman untuk dua bulan, dan cabai rawit aman untuk enam bulan. Sedangkan bawang merah aman untuk tiga bulan, dan bawang putih ada tambahan terus didrop,” papar Soekarwo.

Untuk komoditas lainnya seperti daging sapi, telur ayam, daging ayam, minyak goreng dan terigu, pemerintah memastikan ketersediaannya mencukupi di Jatim. Bahkan telur berlebih stoknya hingga empat bulan. Daging sapi kelebihan 260 ribu ton, daging ayam stok aman untuk lima bulan.

Soekarwo mengatakan, selain sangat mencukupi untuk Jawa Timur, bahan kebutuhan pokok juga mampu memenuhi kebutuhan daerah lain di Indonesia. Tidak hanya bagian timur Indonesia, tetapi juga Indonesia tengah, bahkan Aceh dan Sumatera Utara, juga membutuhkan pengiriman dari Jawa Timur.

Stabilitas pangan ini tidak lepas dari instruksi pemerintah pusat kepada daerah untuk menjaga stabilitas harga saat bulan puasa Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Soekarwo menegaskan, tanggungjawab Provinsi Jawa Timur dalam menstabilkan harga pangan, tidak dapat dilepaskan dari ketersediaan stok, distribusi yang lancar, serta kepastian keamanan dari Polri dan TNI.

“Pengamanan Polda dan TNI menjadi faktor penting terhadap distribusi bahan pangan,” ujar Soekarwo.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah memberikan subsidi ongkos angkut sebanyak Rp. 12,5 milyar, untuk memastikan stabilitas harga bahan pangan. Dana tersebut digunakan untuk subsidi truk, ongkos angkut, karung, dan tenaga atau kuli.

“Subsidi ongkos angkut ini dimulai awal puasa hingga H+7 di 78 titik dan 116 pasar,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Bulog Divre Jawa Timur Usep Karyana menyatakan, untuk ketahanan stok beras di Jawa Timur, mencukupi kebutuhan masyarakat selama satu tahun. Dengan stok tersebut pihaknya juga telah mengirimkan ke provinsi lain Indonesia bagian timur, tengah, dan barat, termasuk Sumatera Utara.

Untuk stok gula di Jawa Timur, pihaknya menyebut komiditas ini mampu menyumbangkan kontribusi sebanyak 50 persen dari total 2,4 juta ton gula nasional.

“Tentunya masyarakat tidak perlu khawatir tentang ketersediaan beras, gula, dan komoditi-komoditi lainnya. Insyaallah kami menjamin stok di Jatim sangat aman,” tegasnya.

Kapolda Jawa Timur Irjen Pol. Machfud Arifin menegaskan, pihaknya bersama Pangdam V Brawijaya telah melakukan pengawasan pendistribusian bahan pokok, dan memastikan tidak ada tindakan melanggar hukum seperti penimbunan.

“Jika ada pasokan banyak, tetapi di pasar tidak ada atau harganya naik, maka kami akan menelusuri hal tersebut dan menindak tegas jika terdapat pelanggaran,” tandasnya.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.