Stok Bahan Pangan Pokok Di Jawa Timur Dipastikan Aman Jelang Ramadhan

Petrus - 20 April 2018
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito didampingi Gubernur Jawa Timur Soekarwo dan pejabat terkait, melepas pengiriman ke luar Jawa Timur (foto : Humas Pemprov Jawa Timur)

SR, Surabaya – Gubernur Jawa Timur Soekarwo, menjamin ketersediaan bahan pokok khususnya beras dalam kondisi aman, pada bulan puasa Ramadhan tahun ini.

Sorkarwo mengatakan, stok beras pada April, Mei dan Juni dipastikan ketersediaannya, karena pada bulan Juni ini produksi beras di Jawa Timur mencapai 996.496 ton, dengan konsumsi 297.243 ton, sehingga surplus 699.253 ton. Stok beras di gudang Bulog sebanyak 147.334 ton, tersebar di seluruh gudang Bulog di Jawa Timur, per 13 April 2018.

Komoditas lain seperti gula pasir, berdasarkan data stok produsen per 28 Februari 2018, di pabrik gula sebanyak 26.875 ton, tebu rakyat sebanyak 79.181 ton, dan di pedagang sebanyak 220.810 ton. Sehingga total stok gula sebanyak 326.867 ton. Sementara stok gula pasir di gudang Bulog per 13 April 2018 sebanyak 50.747 ton, tersebar di seluruh gudang Bulog di Jawa Timur.

Selain itu, stok aman juga berlaku untuk komoditas pertanian seperti cabe merah besar, cabe merah keriting, cabe rawit merah, bawang merah dan jagung. Beberapa stok bahan pangan seperti daging sapi, daging ayam ras, dan telur juga dipastikan aman. Sedangkan untuk kedelai dan bawang putih, pada Juni 2017 ini defisit 15.393 ton dan 3.820 ton.

“Pada prinsipnya semua surplus dan tugas kita kemudian mendistribusikannya ke berbagai provinsi, seperti beras Jawa Timur yang didistribusikan ke 16 provinsi,” kata Soekarwo.

Supaya stok beras tetap aman sepanjang tahun, stok beras harus ditutup dari panen bulan Maret, Juni dan Juli, serta di bulan November harus ada stok di Jawa Timur sebanyak lebih dari satu juta ton.

Menghadapi hari raya, Pemprov Jawa Timur akan terus memantau kebutuhan dan harga bahan pokok di pasar-pasar tradisional, dengan memanfaatkan aplikasi Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Barang Pokok (Siskaperbapo). Sistem ini memiliki 188 inputer yang terdiri dari 116 petugas pasar, 38 petugas kabupaten/kota, 34 petugas sentra produksi, pasar sub agro, barang penting dan swalayan.

Provinsi Jawa Timur juga memiliki gerai stabilisasi harga bahan kebutuhan pokok, yang terdiri dari gerai pangan permanen sebanyak 6.148 gerai, yang terdiri dari kios pangan operasi pasar Jatim, toko tani Indonesia, aplikasi e-warung, serta rumah pangan kita. Selain itu juga ada gerai pangan situasional, yang terdiri dari operasi pasar bantuan subsidi, operasi pasar mandiri dan toko swalayan.

“Kami minta Bupati/Wali Kota mengecek betul ke gerai-gerai ini untuk stok bahan pokok dan harganya, jangan sampai ada panic buying menjelang hari raya,” tandas Soekarwo.

Terkait inflasi di Jawa Timur menjelang hari besar keagamaan nasional seperti puasa Ramadhan dan Idul Fitri, Sorkarwo menegaskan bahwa inflasi relatif terkendali. Inflasi cenderung naik justru di bulan November-Desember, serta Januari-Februari. Hal ini karena pada bulan-bulan tersebut musim hujan sangat tinggi, yang menyebabkan kadar air dalam beras tinggi yakni 28, sehingga petani kesulitan menjual beras. Bulog akan membeli beras dari petani bila kadar airnya rendah yakni 14.

“Jadi permasalahannya kami butuh dryer untuk membuat kadar air dalam beras ini menjadi 14, inilah yang membuat ada panen raya tapi harga beras tinggi, karena masih menjadi gabah kering panen. Kalau ada dryer insyaAllah masalah ini teratasi,” terang Sorkarwo.

Provinsi Jawa Timur membutuhkan sekitar 3.000 pengering atau dryer dengan kapasitas 8 jam untuk memproses, dengan anggaran sekitar 900 milyar rupiah. Hal ini disampaikan Sorkarwo kepada Menteri Perdagangan Eggartiasto Lukita, untuk selanjutnya disampaikan kepada pemerintah pusat.

Sementara itu, Menteri Perdagangan Eggartiasto Lukita menegaskan, seluruh pedagang pasar tradisional harus menjual bahan pokok tidak boleh melampaui harga eceran tertinggi (HET). Di Jawa, Lampung, dan Sumatera Selatan, HET untuk beras medium seharga Rp. 9.450/kg, beras premium Rp. 12.800/kg. Sedangkan untuk gula pasir HET Rp. 12.500/kg, daging beku Rp. 80.000/kg, minyak goreng kemasan sederhana Rp. 11.000/liter dan minyak goreng curah seharga Rp. 10.500/liter.

“Bila sudah ada stok beras di daerah masing-masing maka Bulog standby, bila ada kekurangan maka Bulog siap menyalurkan. Saat ini ketersediaan beras melimpah, jadi tidak ada kekhawatiran kekurangan stok,” kata Enggartiasto Lukito.

Terkait permintaan dryer untuk Provinsi Jawa Timur, Menteri perdagangan berjanji segera menindaklanjuti dan memprosesnya bersama pemerintah pusat.

“Akan segera kami tindaklanjuti dan nanti juga melibatkan Bank Indonesia dan OJK,” katanya.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.