Situs Calon Arang Jadi Korban Vandalisme

Yovie Wicaksono - 25 July 2017
Situs Calon Arang di Kediri Jadi Korban Vandalisme. Foto : (superradio/rahman halim)

SR, Kediri – Situs Calon Arang di Desa Sukorejo Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri menjadi korban vandalisme atau perusakan berupa pemberian tulisan atau coretan di  pertama kali ditemukan oleh penjaga situs Ki Suyono di pelataran situs.

“Di pelataran situs ditulis ini bukan tempat dipuja. Ingat Allah Murka seperti Aceh Tsunami. Awalnya saat itu saya mau ngantar tamu guru dari sekolah. Ketika mau mengambil tikar, kok ada tulisan tersebut,” ujar Ki Suyono, Selasa (25/7/2017).

Karena kejadian ini, Ki Suyono kemudian mengajak tamunya pulang. Ia juga menolak adanya anggapan jika situs tersebut digunakan sebagai tempat ritual pemujaan seperti yang ditulis oleh orang tidak bertanggung jawab.

“Nggak bener mas, orang kan ada yang suka dan tidak. Orang ke sini khan mau ibadah. Orang ibadah dimana mana boleh toh, tidak dilarang,” kata Ki Suyono.

Peristiwa ini kemudian dilaporkan Ki Suyono ke pihak perangkat desa setempat, yang kemudian  diteruskan ke Polsek Gurah. Petugas Kepolisian yang mendapat laporan, langsung mendatangi lokasi. Begitu juga tim dari BPCB ( Balai Pelestarian Cagar Budaya) Provinsi Jawa Timur dan perangkat desa.

Sementara itu, Kasubnit Pengamanan BPCB Provinsi Jawa Timur Jamianto Rukmono Adi mengatakan, pihaknya belum bisa memastikan apakah peristiwa tersebut dikategorikan pengrusakan. “Kalau pengrusakannya belum kita lihat, karena ini benda cagar budayanya belum ada yang dirusak. Jadi kita belum bisa mengidentifikasi kerusakanya sampai berapa jauh,” jelasnya.

Langkah yang dilakukan BPCB selanjutnya adalah berkordinasi dengan Polsek setempat  dan membersihkan benda atau hal hal yang mengundang perasaan tidak enak dari warga. Termasuk tulisan coretan yang ada di pelataran dan mengembalikan posisi benda cagar budaya seperti semula.

“Jadi nanti waktu pembongkaran, kita kembalikan seperti semula keadaan situsnya. Nanti kita dari BPCB akan memantau mengawasi  dan mendampingi sekaligus,” kata Jamianto

Jamianto menjelaskan mengenai adanya bangunan tambahan disekitas situs, menurutnya sangat menyalahi aturan. Tambahan bangunan tersebut semestinya harus melalui ijin resmi ke kantor BPCB Provinsi Jawa Timur.

“Ya seperti ini, pembuatan tempatnya batu candi itu. Apalagi ini  direkatkan dengan semen itu tidak boleh,” tegasnya.

Sebenarnya pihak BPCB sejak tahun 2010 dan 2014 sudah memberikan arahan agar tidak sampai membuat bangunan baru.” Bangunan yang tidak sesuai dengan aslinya kita copot, karena dikhawatirkan nanti mengundang permasalahan,”pungkasnya. (fl/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.