Sinta Nuriyah : Ingatlah Bagaimana Indonesia Lahir

Yovie Wicaksono - 16 January 2019
Istri Presiden ke 4, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Sinta Nuriyah Wahid dalam Sarasehan Kebangsaan di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (16/1/2019). Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Istri Presiden ke 4, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Sinta Nuriyah Wahid mengajak masyarakat Indonesia untuk kembali mengingat bagaimana lahirnya bangsa Indonesia, agar rasa cinta tanah air tidak luntur dan Indonesia tidak terpecah belah.

“Saya mencoba mengajak untuk menelusuri kembali pada tahun yang dulu, mengenai bagaimana lahirnya bangsa ini agar semangat kebangsaan, cinta tanah air tidak luntur dan kita tidak terpecah belah,” ujar Nuriyah dalam acara Sarasehan Kebangsaan di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (16/1/2019).

Nuriyah juga mengatakan bangsa Indonesia lahir karena transformasi etnik yang melebur dan bertekad untuk menjadi suatu bangsa, yang kemudian di ikrarkan oleh para pemuda Indonesia dalam Sumpah Pemuda.

“Lahirnya Sumpah Pemuda inilah yang meleburkan sekat-sekat etnis, geografis, atau keagamaan menjadi suatu bangsa Indonesia,” ujar Nuriyah.

Bagi Nuriyah, NKRI adalah rumah bersama dari berbagai etnis, agama dan budaya, sedangkan Pancasila adalah pondasi yang merajut keberagaman itu dalam bentuk kebangsaan Indonesia.

Nuriyah mengatakan, kebangsaan sebenarnya adalah tekad, semangat, dan kesadaran untuk hidup bersama. Ia mengibaratkan nasionalisme Indonesia merupakan sepasang kekasih.

“Kalau bisa saya ibaratkan, nasionalisme Indonesia ibarat sepasang kekasih yang memiliki latar belakang berbeda, namun bertekad dan membuat janji setia untuk hidup bersama, bahagia bersama, saling menghormati dan mengasihi dalam sebuah keluarga serta rumah besar Indonesia,” terang Nuriyah.

Nuriyah menegaskan, pentingnya reorientasi nasionalisme sebagai komitmen bersama seluruh komponen bangsa terutama para penyelenggara negara, tokoh agama, pemimpin masyarakat, dan seluruh warga bangsa.

Komitmen itu kemudian disosialisasikan dengan masif kepada masyarakat melalui berbagai program nyata, atau kesadaran secara kemanusiaan untuk mewujudkan kesejahteraan bersama. Dengan cara ini, Indonesia diyakini bisa menjadi bangsa yang sejahtera dan bermartabat. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.