Segera Bangun Galangan Kapal Kayu, ITS Gandeng Albaola

Petrus - 17 April 2018
Daniel M Rosyid (tengah) saat berkunjung ke galangan kapal milik Albaola tahun 2011 lalu (foto : Istimewa)

SR, Surabaya – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya akan mendirikan galangan kapal kayu sebagai pusat studi pendidikan, sebagai tindak lanjut kerjasama yang telah terjalin dengan salah satu pusat studi budaya maritim Spanyol, yaitu Albaola Itsas Kultur Faktoria.

Dekan Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS, Daniel M. Rosyid mengatakan, pihaknya menargetkan galangan kapal kayu itu dapat selesai dibangun pada tahun 2020.

“Sebagai negara maritim yang memiliki luas lautan lebih besar dari daratannya, Indonesia sangat perlu untuk mendirikan pusat produksi kapalnya sendiri,” tutur Daniel.

Sebelumnya, tim ITS berkunjung ke Albaola Itsas Kultur Faktoria di Spanyol pada 2011 lalu, dilanjutkan penandatanganan kerja sama antar keduanya pada November 2017. Selanjutnya, ITS akan melanjutkan kerja sama dengan mengirim lima mahasiswanya untuk magang di tempat pembuatan kapal kayu di Spanyol.

Albaola menurut Daniel M. Rosyid, merupakan tempat yang tepat untuk belajar budaya maritim. Bahkan UNESCO telah memberikan kepercayaan kepada Albaola untuk membangun replika penuh dari San Juan, yaitu sebuah kapal kayu pemburu ikan paus yang dibangun di daerah Basques pada tahun 1560-an. Kapal tersebut pernah digunakan untuk berlayar melintasi Atlantik hingga Newfoundland, Kanada, sampai akhirnya tenggelam di perairan Red Bay, Labrador.

Albaola kemudian dinobatkan sebagai pusat pengembangan budaya maritim kelas dunia, yang mendidik pemudanya dengan berbagai keterampilan kemaritiman, seperti boat building, rowing dan sailing.

“Dengan mengirim mahasiswa kami ke sana, kami berharap bisa mengetahui model bisnis seperti apa yang mereka kembangkan untuk kemudian diterapkan di Indonesia,” ujarnya.

Melalui keberadaan galangan kapal milik ITS, industri pembuatan kapal kayu di Indonesia diharapkan tumbuh semakin baik.

“Perahu kayu nelayan yang selama ini hanya dikerjakan oleh pengrajin, nantinya akan mendapat sentuhan engineer,” lanjutnya.

Keberadaan perahu kayu kata Daniel, juga akan menjadi daya tarik tersendiri terutama pada sektor pariwisata pantai di Indonesia. Kapal kayu itu nantinya juga dapat diberi layar, untuk lebih menarik wisatawan. Bahkan, keberadaan galangan kapal kayu akan menjadi ladang perekonomian baru bagi masyarakat.

“Di Raja Ampat contohnya, adanya kapal kayu dapat menjadi ciri khas tersendiri,” imbuhnya.

Galangan kapal ITS itu nantinya dapat juga menjadi museum, atau tempat berkunjung sekaligus belajar mengenai proses pembuatan kapal kayu bagi warga Surabaya dan sekitarnya.

Research sudah dilaksanakan, tinggal menunggu dana terkumpul dari beberapa sponsor,” pungkasnya.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.