Satu Suro di Candi Songgoriti

Yovie Wicaksono - 16 September 2018

SR, Batu – Memperingati 1 Muharram 1440 Hijriyah dan 1 Suro (tahun baru Jawa), warga Dusun Songgoriti, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu menggelar acara njenang suro dan bantengan.

Prosesi njenang suro dimulai sejak Rabu (12/9/2018) sore, diawali dengan membuat pawonan. Setelah itu, dilanjutkan dengan mengaduk jenang secara bersama-sama dengan diiringi macapat yang dibawakan oleh lintas komunitas.

Ketua panitia peringatan 1 Suro, Wiji Mulyo mengatakan njenang suro bertujuan untuk melestarikan budaya agar tidak tergeser dengan budaya baru, sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan, dan untuk mempererat persaudaraan.

Njenang suro sendiri tidak lepas dari Kerajaan Kahuripan dan Prabu Airlangga. “Njenang suro ini masih berkaitan dengan Kerajaan Kahuripan, dulu Airlangga yang mengadakan mbubur suro (njenang suro) sebagai rasa terima kasih kepada sesepuh dengan berkumpul bersama tidak membedakan antara raja dan rakyatnya” ujar pria yang biasa dipanggil Sarban kepada Super Radio.

Esok harinya, seribu orang turut memeriahkan kesenian bantengan di depan Candi Songgoriti. Acara bantengan ini, diawali dengan perarakan mulai dari depan makam Mbah Patok (Mpu Supo), menuju pertigaan Songgokerto, hingga finish di depan Candi Songgoriti.

Setelah itu bantengan saling beradu dan beraksi, dimana pemain bantengan sudah mulai kalap dengan suara pecut (cambuk) dan diiringan lagu kereto jowo (klayung-klayun).

Setiap bantengan didampingi oleh dua pendekar pengendali kepala bantengan dengan menggunakan tali tampar. Setelah selesai beradu, para pemain bantengan yang kesurupan dibawa ke area Candi Singosari untuk dinetralisir.

Bantengan ini berlangsung mulai pagi hingga petang hari dan diikuti kelompok kesenian bantengan dari kawasan Malang raya dan Pasuruan. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.