Saifulah Yusuf : Revolusi Mental Harus Terus Digelorakan

Yovie Wicaksono - 2 June 2017
Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf dalam sebuah Seminar Keberagaman Nilai-Nilai Pancasila di Gedung Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan, Surabaya (foto : Superradio/Srilambang)

SR, Surabaya – Revolusi mental menjadi solusi dari tiga permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia di era globalisasi, yakni merosotnya wibawa negara, lemahnya sendi perekonomian bangsa, serta intoleransi dan krisis kepribadian bangsa.

Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf mengatakan, revolusi mental merupakan gerakan seluruh masyarakat, termasuk pemerintah, dengan cara yang cepat dan tepat untuk mengangkat kembali nilai-nilai strategis yang diperlukan oleh bangsa dan negara, untuk menciptakan ketertiban dan kesejahteraan rakyat.

“Revolusi mental menjadi kunci untuk memenangkan bangsa ini di era globalisasi. Pasalnya, revolusi mental memiliki tiga nilai utama, yakni integritas, kerja keras, serta gotong royong,” kata Saifullah Yusuf pada Seminar Keberagaman Nilai-Nilai Pancasila di Gedung Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP), Jalan Jemur Andayani Surabaya, Jumat (2/6/2017).

Revolusi mental itu kata Saifullah Yusuf, harus terus digaungkan untuk membentuk karakter pemuda yang memiliki jiwa Pancasila. Langkah ini diperlukan untuk menjawab tantangan ekonomi dan informasi, di era globalisasi yang sudah tidak lagi mengenal batas negara. Pemuda diharapkan mampu mengembangkan kreativitas, berwawasan keilmuan, berjiwa pemimpin dan berjiwa Pancasila.

“Pemuda memiliki rasa nasionalisme terselip dalam jiwa mereka yang selalu bergejolak sebagai kepemimpinan masa depan yang ideal. Rasa nasionalisme adalah syarat utama seorang pemimpin sejati bangsa ini guna menyukseskan revolusi mental dan memenangkan persaingan di era globalisasi,” katanya.

Pemuda lanjut Saifullah Yusuf, merupakan target revolusi mental karena pemuda menjadi andalan bangsa dalam era globalisasi, khususnya di bidang perekonomian. Para pemuda menjadi pemain penting dalam perekonomian Indonesia. Berdasarkan data Sakernas (Agustus 2016), dari 118,41 juta penduduk Indonesia yang bekerja, sebanyak 28,5 persennya adalah pemuda. Mereka menempati tiga sektor penting dalam perekonomian bangsa, yakni Jasa (51,94%), Manufaktur (25,03%) dan Pertanian (23,03%).

“Ini artinya, peran pemuda cukup vital dalam perekonomian. Pemuda menjadi sumber penggerak ekonomi bangsa. Jika ekonomi tumbuh dengan bagus dan bangsa kita memenangkan globalisasi, maka rakyat jadi sejahtera, kesejahteraan itu menciptakan ketertiban. Kedua hal itu adalah tujuan dari revolusi mental,” ujarnya.

Sementara itu, Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol. Mohammad Iqbal, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga Pancasila. Caranya dengan menumpas aksi terorisme dan gerakan radikalisme, mengedepankan kepentingan bangsa diatas kepentingan kelompok dan golongan.

“Pancasila harus kita jaga dengan sekuat tenaga. Indonesia ini indah, bangsa lain begitu ingin memiliki tanah air seindah Indonesia. Bersyukurlah dan jangan merusak tanah air kita. Mari kita jaga Indonesia yang memiliki konstitusi, salah satunya Pancasila demi masa depan bangsa dan generasi penerus kita,” tandas Iqbal.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.