Saatnya Revolusi Jari Lawan Hoax

Yovie Wicaksono - 11 February 2019
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko Saat Memberikan Keterangan Pers di Jakarta, Senin (11/2/2019). Foto : (Kantor Staf Kepresidenan)

SR, Jakarta – Indonesia saat ini dihadapkan pada tantangan membangun ruang publik yang sehat dan bebas dari rasa takut. Masyarakat harus bijak menyikapi begitu cepatnya perkembangan dunia digital dan media sosial.

Pernyataan itu diungkapkan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko saat membuka Rapat Koordinasi Nasional Kehumasan dan Hukum Kementerian Dalam Negeri bertema ‘Kesiapan Pelaksanaan Pemilu Serentak 2019’ di Jakarta, Senin (11/2/2019).

Moeldoko mengatakan, masyarakat harus lebih bijak dalam menelaah, membaca dan tidak asal membagi sebuah informasi yang belum jelas kebenarannya.

“Saat ini saya menjuluki ada sebuah revolusi jari, di mana sebuah berita ditentukan kecepatan dalam 30 detik begitu kita membaca berita. Tanpa mengetahui kebenarannya, jari kita bermain. Apakah berita itu benar atau tidak, masa bodoh,” kata Moeldoko.

Moeldoko menegaskan, pemerintah telah bekerja dengan baik. Namun, hasil kerja ini kerap dipatahkan dengan berita bohong atau hoax.

Doktor Ilmu Administrasi Negara dari Universitas Indonesia itu menjelaskan, saat ini terjadi era ‘Pasca-Kebenaran’ atau ‘Post-Truth’, di mana masyarakat cenderung tidak lagi menggunakan logika untuk mencari kebenaran akan informasi namun lebih mencari pembenaran sesuai perasaan pribadinya dalam membentuk opini publik.

“Di sini, fakta-fakta obyektif diabaikan dan kerap tidak bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.

Moeldoko menekankan agar hoax jangan dianggap sebagai permasalahan remeh, karena bukan hal yang tidak mungkin bila suatu berita bohong disebarkan terus menerus maka akan diamini kebenarannya oleh masyarakat.

“Hoax bahkan dapat menyebabkan perang saudara yang berakibat pada perpecahan bangsa, seperti yang terjadi di Afghanistan,” tegasnya. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.