Saat Generasi Muda Peduli Sampah di Hutan Mangrove

Petrus - 27 February 2017
Relawan lingkungan memunguti sampah plastik diantara tanaman mangrove, di muara sungai Wonorejo, Surabaya (foto : Superradio/Srilambang)

SR, Surabaya – Kota Surabaya terus melakukan upaya mengurangi sampah, untuk memenuhi target Indonesia Bebas Sampah 2020. Namun menyandang sebagai kota terbesar kedua di Indonesia dengan jumlah pendudukan lebih dari 3 juta jiwa, Surabaya punya pekerjaan berat untuk mewujudkan kota yang bebas dari sampah.

Koordinator Komunitas Nol Sampah, Hermawan Some mengatakan, upaya mengatasi sampah tidak cukup dilakukan oleh pemerintah saja, namun perlu keterlibatan seluruh elemen masyarakat untuk bergerak bersama mengatasi sampah.

“Yang paling penting adalah partisipasi masyarakat, nah itu yang mungkin penting dilakukan, jadi sekarang harus didorong partisipasi masyarakat sehingga beban pemerintah dan beban kita semua berkurang,” kata Hermawan Some.

Pria yang akrab dipanggil Wawan ini mengatakan, selain masih minimnya partisipasi masyarakat dalam mengelola sampahnya sendiri, ketersediaan anggaran yang cukup dari pemerintah daerah juga menjadi kendala penanganan masalah sampah.

“Yang sering jadi kendala adalah pembiayaan, seringkali daerah bilang saya peduli sampah, tapi ternyata di APDB mereka sangat kecil, padahal untuk membiayai sampah sangat mahal, butuh biaya,” terang Wawan.

Sebagai kota metropolitan, jumlah penduduk yang padat mengakibatkan konsumsi mayarakat juga tinggi. Hal ini tentu saja mempengaruhi pemakaian kemasan makanan atau minuman yang menjadi sumber sampah.

Wawan mengatakan, selain pengelolaan sampah mulai dari rumah dan lingkungan terkecil, mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah adalah salah satu kunci mengatasi persoalan sampah, terutama sampah plastik. Perubahan cara pandang dapat meminimalisir produksi sampah oleh masing-masing orang, termasuk kebiasaan mengganti pemakaian plastik atau kresek dengan bahan lain yang lebih ramah lingkungan.

“Mengubah perilakunya sehingga semakin sedikit menghasilkan sampah, misalnya bawa tas belanja sendiri, bawa tempat makan dan tempat minum sendiri. Kalau itu diterapkan bisa mengurangi sampah yang dihasilkan, otomatis mengurangi biaya atau pengeluaran untuk pengolahan sampah,” paparnya.

Kota Surabaya menghasilkan sampah setiap harinya hingga 1.500 ton, dimana sebagian besar sampah berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) Benowo. Pengurangan volume sampah yang dikirim ke TPA Benowo dilakukan mulai dari rumah, dengan memilah dan mendaur ulang sampah rumah tangga.

Salah satu upaya mengurangi volume sampah adalah mencegah sampah meluas hingga ke laut, dengan cara memasang perangkap atau jaring di setiap rumah pompa yang ada di sungai-sungai di Surabaya.

Aditya Wasita, Sekretaris Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau Kota Surabaya, mengatakan, pemasangan alat perangkap sampah di setiap rumah pompa diharapkan dapat mengurangi sampah sampai ke laut, yang itu akan mengganggu ekosistem pesisir seperti mangrove muara.

“Kita kan rata-rata sungainya ada rumah pompa, ini sudah tertahan banyak sekali karena ada jaring perangkapnya. Nanti akan lebih banyak lagi kita pasang di sungai yang belum ada, untuk mengurangi sampah ke laut,” kata Aditya Wasita.

Sampah yang sampai ke laut menjadi persoalan serius Kota Surabaya, karena dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan mangrove serta ikan didalamnya. Gerakan bersih dari sampah plastik dilakukan sekitar 100 muda-mudi dari berbagai kelompok peduli lingkungan, dengan memunguti sampah plastik di kawasan hutan mangrove, di muara sungai Wonorejo, Surabaya. Sampah plastik itu terbawa gelombang laut pasang, serta sebagian berasal dari sampah rumah tangga yang dibuang ke sungai.

Vero, aktivis lingkungan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengatakan, banyaknya sampah plasrik yang berhasil dikumpulkan merupakan bukti masih banyak masyarakat yang belum sadar akan kelestarian lingkungan. Sampah yang dibuang sembarangan itu menutupi akar tanaman mangrove, sehingga dapat mengganggu pernafasan maupun perkembangannya.

“Prihatin sih sebenarnya, soalnya itu secara tidak langsung kesalahan kita kan yang buang sampah sembarangan hingga mengalir ke laut,” ujar Vero yang berharap semakin banyak masyarakat yang terlibat dalam gerakan semacam ini.

Yunita Sari dari Komunitas Kantong Sampah mengungkapkan, perubahan pola pikir masyarakat menjadi kunci penting, untuk mengubah kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan.

“Pola pikir masyarakat yang harus diubah, tidak hanya gerakan bersih-bersih saja,” pungkasnya.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.