Rompi Cerdas Untuk Penyandang Tunanetra

Petrus - 3 August 2018

SR, Ponorogo – Dua siswi SMP Negeri 1 Jetis, Kabupaten Ponorogo, berhasil membuat sebuah rompi untuk penyandang tunanetra. Rompi ini dilengkapi dengan sensor ultrasonik dan lampu led sehingga membantu pemakainya untuk mendeteksi obyek yang berada didepan dan samping. Serta lampu led yang akan menyala pada malam hari, sehingga membuat orang di sekitar tunanetra lebih waspada.

“Ide awal saya membuat rompi ini karena pernah melihat peyandang tunanetra menyeberang jalan pada malam hari, yang kemudian tertabrak motor, dari situ saya ingin membuat alat yang bisa membantu kerterbatasan mereka,” kata Else Windasari, Jumat (3/8/2018).

Dari awal tercetusnya ide ini, kemudian Else berkonsultasi dengan guru pembimbing Karya Ilmiah Remaja (KIR) di sekolahnya, tentang cara membuat alat yang dapat membantu penyandang tunanetra.

Dari situ, Else bersama teman sekelasnya akhirnya membuat rompi cerdas penunjuk arah, dan pengaman kecelakaan untuk penyandang tunanetra.

Bahkan, rompi ini sudah pernah diikutkan lomba Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) yang diikuti oleh seluruh perwakilan provinsi di Indonesia. Dalam lomba ini Else dan temannya berhasil masuk ke babak final dan meraih medali emas.

“Kami sempat deg-degan karena ada banyak peserta yang ikut, tapi setelah masuk ruang penjurian kami berhasil dengan baik karena langsung berhadapan dengan juri,” tuturnya.

Else menjelaskan, rompi cerdas buatannya mampu membantu penderita tunanetra, karena telah dilengkapi dengan berbagai sensor. Beberapa sensor pelengkap diantaranya sensor ultrasonik, yang berfungsi untuk mendeteksi benda-benda yang berada di depan dan di samping pemakai rompi, yang kemudian akan diteruskan oleh perintah suara melalui headset yang dipakai oleh pengguna rompi.

Selain itu adanya lampu led membuat penyandang tunanetra lebih diwaspadai oleh orang normal saat malam hari, karena lampu pada rompi akan otomatis menyala ketika gelap.

Semua sensor diatur oleh sebuah mikro controller arduino yang sebelumnya sudah lebih dulu diprogam. Pengoperasian rompi ini juga tinggal dipasangkan baterai 12 volt yang mampu bertahan selama 7 hari.

Dalam proses pembuatan rompi ini, Else bukan tidak mengalami kendala, dari lima kali percobaan membuat dan memprogam rompi cerdas ini, dia mengalami tiga kali kegagalan dan dua kali berhasil. Mulai dari lamanya proses pembuatan awal yang mencapai satu bulan lamanya, dan terbakarnya sensor yang dipasangkan di rompi.

“Dari beberapa percobaan yang kami lakukan banyak kegagalan yang terjadi, mulai dari terlalu jauh saat mensetting sensor dengan obyek, dan terbakarnya sensor,” imbuhnya.

Sementara itu, guru pembimbing KIR Robotika, Dwi Sujatamiko menjelaskan, jika alat buatan siswanya ini tidak menyangka bisa mendapat medali emas tingkat nasional. Dia mengaku mengirimkan beberapa naskah dari kelompok lain, tapi yang terpilih hanya rompi cerdas ini dan hanya ada 6 sekolah dari Jawa Timur yang lolos masuk final.

“Kami sempat diberi saran oleh juri untuk lebih mengembangkan lagi rompi ini, salah satu juri memberi saran agar ditambah dengan sensor warna, agar penyandang tunanetra bisa mengenali warna,” pungkasnya.(gs/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.