Ribuan Warga Berebut 1.000 Tumpeng Pada Acara Bersih Desa di Kediri

Petrus - 12 October 2017
Warga Desa Sukorejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, melakukan bersih desa dengan memperebutkan 1.000 tumpeng (foto : Superradio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Sudah menjadi tradisi setiap tahunnya bagi warga Desa Sukorejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, melakukan bersih desa sebagai bagian dari pelestarian budaya warisan leluhur.

Kegiatan bersih desa diisi dengan rangkaian kegiatan diantaranya pawai 1.000 tumpeng, yang diarak mulai dari rumah Kepala Desa hingga ke punden leluhur setempat. Sesampainya di di lokasi, ritual dilanjutkan dengan menggelar doa bersama hingga secara spontan ribuan warga saling berebut tumpeng di lokasi acara bersih desa.

Melihat luapan warga yang sejak pagi sudah menunggu di Pakunden, pihak panitia menyiapkan antisipasi dengan melakukan pengamanan, baik di luar maupun di dalam. Warga yang meyakini jika mendapat makanan tumpeng nantinya akan mendapat berkah tersendiri, mencoba untuk merangsek masuk sampai berhasil merebut makanan tumpeng.

“Ini alhamdulillah dapat berkah. Ini bagian dari tradisi setiap Suro, agar diberi berkah sama Allah. Walau pun berebut nggak apa-apa, yang dicari ya ini,” kata Hijjah, yang datang ke Pakunden bersama suami dan cucunya.

Ada berbagai macam dan bentuk tumpeng yang di arak oleh 700 peserta dan panitia. Ada yang berupa sayur mayur, buah buahan, tahu, dan nasi kuning. Menurut Ketua Panitia, Jati Utomo, kegiatan ini merupakan ungkapan terima kasih atau rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena selama satu tahun telah diberikan rejeki dan kesehatan.

“Adanya tumpeng dan sebagainya itu merupakan simbol ungkapan terima kasih kepada Allah SWT, karena selama ini kita diberikan rejeki dan kesehatan,” ujarnya, Kamis (12/10/2017).

Jati Utomo menerangkan, acara ini dihadiri sekitar 2.000 warga dan melibatkan peserta kurang lebih 700 orang. Ke depan, pihaknya menginginkan kegiatan ini dapat menjadi icon atau tujuan wisata di daerah.

“Kami ingin ini nanti menjadi icon wisata, terutama wisata religim,” kata Jati.(fl/red) 

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.