Ribuan Orang Hadiri Tumpeng Sewu

Yovie Wicaksono - 13 August 2018
Wakil BupatiYusuf Widiatmoko beserta Undangan Lainnya, Sedang Menikmati Tumpeng Khas Desa Kemiren Kecamatan Glagah. Foto : (Super Radio/Fransiskus Wawan)

SR, Banyuwangi  – Untuk kesekian kalinya Festival Tumpeng Sewu 2018 digelar Banyuwangi. Tumpeng Sewu kini tak hanya sebuah ritual adat, namun gelaran ini kini menjadi atraksi wisata Banyuwangi yang diminati wisatawan.

Festival Tumpeng Sewu digelar masyarakat Desa Kemiren, Minggu (12/8/2018) malam. Festival ini dibuka Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko.

Yusuf mengatakan even ini tak lagi menjadi sebuah ritual, namun sudah menjadi atraksi yang menarik bagi wisatawan. “Makanya pemerintah terus konsisten mengangkat even ini dalam sebuah festival. Mudah-mudahan gelaran ini juga bisa mengangkat ekonomi masyarakat Kemiren,” kata Wabup.

“Kekhasan semacam ini banyak diminati wisatawan. Ditambah lagi keramahtamahan masyarakatnya, membuat even ini menjadi favorit bagi para wisatawan,” imbuhnya.

Sejak sore, warga Kemiren telah menggelar tikar di depan rumahnya masing-masing untuk persiapan gelaran even ini. Masyarakat pun duduk bersila sambil menikmati tumpeng sewu. Sementara jalan menuju Desa Adat Kemiren, sejak 17.00 WIB sudah ditutup.

Sekitar 18.30 WIB, ritual ini mulai dibuka. Usai dibacakan doa, ritual ini dimulai. Di bawah temaram api obor, semua orang duduk dengan tertib bersila di atas tikar maupun karpet yang tergelar di depan rumah. Di hadapannya tersedia tumpeng yang ditutup daun pisang. Dilengkapi lauk khas warga Kemiren, pecel pithik dan sayur lalapan sebagai pelengkapnya.

Wisatawan Asing Juga Menikmati Tumpeng Sewu di Banyuwangi. Foto : (Super Radio/Fransiskus Wawan)

Pada even ini ribuan masyarakat dari berbagai penjuru desa maupun wisawatan hadir di Desa Kemiren untuk menikmati ribuan Tumpeng Sewu yang disajikan berderet-deret di sepanjang jalan desa. Mereka datang tak hanya ingin ikut makan tumpeng, namun ingin melihat secara lengkap ritual Tumpeng Sewu.

Salah satunya Emma Radenac (30). Turis asal Prancis ini bersama suaminya Regis Souris sengaja datang awal ke Desa Kemiren agar bisa melihat ritual Tumpeng Sewu. “Ini sangat menaKjubkan. Semua orang membuat tumpeng untuk dimakan bareng-bareng,” ujarnya.

Selain melihat ritual, Emma juga diajak makan bersama. Ia pun memuji masakan khas Using ini. ”Sangat enak dan lezat. Ini rasanya hampir tiada duanya,” kata Turis yang telah 2 hari di Banyuwangi ini.

Menurut sesepuh Desa Kemiren, Suhaimi, Tumpeng Sewu merupakan tradisi adat warga Using, suku asli masyarakat Banyuwangi, yang digelar awal Idul Adha. Sebelum makan Tumpeng Sewu, warga diajak berdoa agar desanya dijauhkan dari segala bencana dan sumber penyakit. Ritual Tumpeng Sewu diyakini merupakan selamatan tolak bala.

Setiap rumah warga Using di Kemiren mengeluarkan minimal satu tumpeng yang diletakkan di depan rumahnya. Pagi harinya sebelum dimulai selamatan masal, warga telah melakoni ritual mepe kasur (menjemur tempat tidur).

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, MY. Bramuda menambahkan, dengan gelaran dan sejumlah atraksi sampai saat ini wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi terus meningkat.

“Pada 2017 wisatawan mancanegara mencapai 99 ribu, meningkat dibanding 2016 yang hanya 77 ribu. Sementara wisatawan domestik sejumlah 4,9 juta juta orang tahun 2017 dan tahun 2016 hanya 4 juta orang,” ujarnya.

Untuk mendukung kunjungan tersebut sepanjang tahun 2018 ini ada 77 festival. Sedangkan infrastruktur pendukung kini telah ada 9 hotel bintang tiga dan empat. 750 Rumah makan, 845 homestay, 58 destinasi wiasata. Diantaranya ada Alas Purwo, Bangsring Under Water, Pantai Wedi Ireng, Kampung Kakao Glenmore. (wan/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.