Resolusi Budaya Jadi Tema Peluncuran Buku Seni DKJT 2018

Wawan Gandakusuma - 13 January 2019
Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Sesuai dengan target Kongres Kebudayaan Indonesia (KKI) 2018, yakni menghasilkan resolusi berisi dasar kebijakan pemerintah dan strategi kebudayaan sampai 20 tahun ke depan, Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) mengangkat tema resolusi kebudayaan dalam Program Penerbitan Buku Seni Dewan Kesenian Jawa Timur 2018.

“Satu tahun yang lalu, Dewan Kesenian sudah menentukan bahwa 2018 konteks yang kita tawarkan kepada masyarakat adalah resolusi kebudayaan, dan ternyata kemarin saat Kongres Kebudayaan telah ditetapkan oleh Presiden Jokowi yang dibantu Pak Hilmar Farid, sama dengan konteks kita,” ujar Ketua DKJT, Taufik Hidayat , saat peluncuran buku seni DKJT, di Pendopo Taman Budaya Jawa Timur “Cak Durasim” Surabaya, Minggu (13/1/2019).

Dengan menggandeng 6 penulis muda, yakni Syska La Veggie, Mohammad Hariyanto, Ahmad Faishal, Ratna Mestika, Nanda AR, dan Hening Nawa, DKJT menilai karya mereka dapat menjawab pertanyaan masyarakat mengenai resolusi kebudayaan.

“Buku teman-teman ini cukup menjawab pertanyaan kita tentang resolusi kebudayaan, dan tahun ini kita memilih penulis-penulis muda, karena kami pikir karya mereka itu karya nge-pop, artinya bisa komunikatif dengan dunia saat ini, sangat up to date untuk menjadi bahasan anak muda,” ucap Taufik yang akrab dengan panggilan Taufik Monyong ini.

Masing-masing buku ini nantinya akan dicetak sekitar 100 eksemplar, untuk buku ukuran tebal akan dicetak 75-100 eksemplar, sedangkan buku ukuran tipis akan dicetak lebih dari 100 eksemplar.

Penulis buku “Ambisi Layar Lebar Sineas Jawa Timur”, Syska La Veggie, ingin memotivasi sineas di Jawa Timur melalui bukunya untuk memproduksi film layar lebar komersil secara nasional.

“Saya ingin memberikan motivasi melalui buku ini, bahwa sineas Jawa Timur itu berpotensi untuk membuat film layar lebar komersil secara nasional, karena kita lihat belum ada lagi film komersil nasional yang secara keseluruhan diproduksi oleh sineas-sineas Jawa Timur. Padahal 29 tahun yang lalu, pada 1990 ada film layar lebar nasional yang dibuat oleh arek-arek Suroboyo, setelah itu tidak ada pergerakan, kalaupun ada tim intinya dari sineas Jakarta,” ujar Syska.

Syska mengaku, proses penulisan bukunya membutuhkan waktu enam bulan, dengan proses pengumpulan data yang cukup lama. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.