Prospek Wisata Indonesia 2019, Persaingan Keras Rebut Pasar Pariwisata

Petrus - 12 October 2018
Sejumlah kuda tertambat siap mengantar pengunjung mengelilingi sejumlah obyek wisata di Gunung Bromo (foto : Superradio/Srilambang)
SR, Bandung – Tenaga Ahli Menteri Bidang Pemasaran dan Kerjasama Pariwisata Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Prof. I Gde Pitana, memprediksikan prospek pariwisata Indonesia 2019 sangat cerah karena travel propensity di negara-negara sumber wisman tumbuh positif, sebagaimana angka proyeksi pertumbuhan wisatawan dunia menurut UNWTO tumbuh positif.
Namun, perilaku negara pesaing akan menciptakan persaingan yang semakin keras dalam merebut pasar pariwisata, sehingga menjadi tantangan terbesar bagi Indonesia.
“Saya sangat yakin dengan angka proyeksi UNWTO yang memprediksikan pertumbuhan pariwisata dunia pada 2010-2030 berkisar 3,3 persen setiap tahun, namun kenyataannya  belakangan ini tumbuh di atas 6 persen atau double digit. Sementara untuk kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, mendapatkan sebagian besar kunjungan wisman dunia,” kata Prof. I Gde Pitana di Bandung, Jawa Barat, Jumat (12/10/2018).
I Gde Pitana mengatakan, prospek cerah pariwisata 2019 itu karena dipengaruhi oleh situasi makro dan mikro, terkait pertumbuhan ekonomi di masing-masing negara serta intermediary di antaranya terkait dengan harga.
Sebagai contoh pasar India dengan jumlah penduduk 1,3 miliar, memiliki outbound (orang yang berwisata ke luar negeri) sebanyak 13,2 juta, sedangkan China dengan total penduduk 1,5 miliar angka outboundnya sebesar 117 juta. Kedua negara ini masing-masing mempunyai pertumbuhan ekonomi tahun lalu sebesar 6,8 persen dan 6,7 persen.
“Negara anggota ASEAN yang diapit oleh India dan China, sebagai dua negara pasar pariwisata terbesar ini diperebutkan oleh negara-negara anggota ASEAN, termasuk Indonesia. Ini menjadi tantangan terbesar bagaimana memperebutkan pasar tersebut,” katanya.
Dalam kesempatan itu, I Gede menjelaskan mengenai frame work untuk meneropong pariwisata tahun depan, dengan melihat bagaimana source di sumber-sumber wisman, transitory, dan destination.
“Bagaimana source masing-masing pasar, termasuk travel propensity yang dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi di masing-masing negara. Juga kesiapan destinasi pariwisata di dalam negeri. Ini menjadi PR bagi media yang tergabung dalam Forwapar untuk menggali data termasuk dari nara sumber pembicara asing yang akan dihadirkan dalam seminar internasional ITO 2019 tersebut,” katanya.
Dikatakan, ada lima hal yang harus menjadi perhatian untuk meneropon pariwisata pada tahun depan, yakni kondisi pasar khususnya pasar utama (pertumbuhan ekonomi), kesiapan destinasi, kondisi sosial-ekonomi-politik Indonesia serta isu dan persepsi tentang terorisme dan perilaku negara pesaing.
“Dari lima hal yang menjadi perhatian tersebut, yang menjadi tantangan besar adalah perilaku negara pesaing,” kata I Gde Pitana.
Pitana menggambarkan banyak negara berusaha menjadikan Indonesia sebagai pasar utama mereka, diantaranya Selandia Baru yang memberikan insentif bagi pelaku bisnis pariwisata di sana bila berhasil menarik wisman dari dalam negeri. Selain itu, ada pula Jepang yang mengembangkan wisata halal untuk merebut pasar Indonesia.
“Sedangkan Vietnam membuat ‘Bali Baru’ sebagai destinasi unggulan mereka dalam upaya memenangkan persaingan di kawasaan pasar ASEAN khususnya dengan Indonesia,” kata I Gede.(ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.