Presiden Sebut SDM Sebagai Kekuatan Besar Bangsa Indonesia

Petrus - 28 December 2017
Presiden Joko Widodo menyerahkan Sertifikat Kompetensi Peserta Pemagangan Tahun 2017, di Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja, Jakarta (foto : Istimewa)

SR, Jakarta – Pemerintah saat ini tengah fokus pada pembangunan infrastruktur yang dilakukan secara merata di seluruh Indonesia, dalam rangka mengurangi ketimpangan ekonomi. Selanjutnya, pemerintah sudah bersiap untuk mengalihkan perhatiannya pada pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia agar lebih unggul.

Hal ini diungkapkan Presiden Joko Widodo, pada acara Penyerahan Sertifikat Kompetensi Peserta Pemagangan Tahun 2017, di Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja, Jakarta, Kamis (28/12/2017).

Menurutnya, untuk mendukung hal tersebut maka pemerintah telah terlebih dahulu menyiapkan program-program pengembangan SDM. Salah satunya ialah pemagangan nasional yang dimaksudkan untuk peningkatan kompetensi tenaga kerja.

Program yang digelar dengan menggandeng sektor industri tersebut sudah berjalan kurang lebih setahun lamanya, dan dilakukan uji kompetensi bagi para peserta di penghujung program. Tahun ini, dari 56.119 peserta program magang, sebanyak 6.201 orang mengikuti uji kompetensi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 5.635 peserta telah tersertifikasi.

“Artinya apa? Uji kompetensi ini benar-benar dilakukan. Karena ada yang tidak lulus. Kalau lulus semuanya malah saya curiga,” kata Presiden Jokowi.

Menurutnya, mempersiapkan SDM unggul sejak dini merupakan sebuah hal yang fundamental bagi Indonesia, untuk dapat bersaing dengan negara-negara lain. Agar menjadi negara maju, Indonesia tidak boleh lagi hanya bergantung pada kekayaan sumber daya alam yang dimiliki.

“Kunci kita ada di pembangunan manusia. Kalau SDM bisa kita upgrade, inilah modal kuat kita untuk bisa bersaing dengan negara-negara lain,” ujar Jokowi.

Bila diperhatikan, perhatian pemerintah yang akan difokuskan pada pengembangan SDM dalam periode selanjutnya bukanlah tanpa sebab. Hal ini karena Indonesia akan memperoleh bonus demografi, di mana usia angkatan kerja produktifnya jauh lebih besar dibanding usia nonproduktif. Perbandingan antara kedua kelompok usia itu diperkirakan akan berada pada angka 60 berbanding 40 persen.

“Ini bisa menjadi kekuatan besar, tapi bisa juga menjadi masalah kalau tak diperhatikan. Enam puluh persen usia produktif adalah kekuatan. Ini untuk memenangkan kompetisi dengan negara-negara lain. Kalau kita bisa memanfaatkannya, kita bisa jadi bangsa pemenang,” lanjut Jokowi.

Uji kompetensi dan sertifikasi yang dilakukan pemerintah ini merupakan salah satu upaya untuk mempersiapkan dan mengantisipasi bonus demografi tersebut. Sertifikat kemampuan yang dimiliki oleh peserta magang, pada akhirnya dapat menunjukkan kualitas kemampuan mereka di dunia kerja.

Melihat hal tersebut, Kepala Negara sudah menginstruksikan menteri terkait untuk memperluas cakupan program pemagangan nasional pada tahun berikutnya.

“Saya kira ini sangat penting sekali. Ke depan saya tadi sudah memerintahkan kepada Menaker kalau tahun ini hanya 56 ribu, nanti tahun 2019 paling tidak minimal 1,4 juta harus dikerjakan. Infrastruktur mulai berkurang, kita masuk ke pembangunan SDM secara besar-besaran,” katanya.

Kepada para peserta magang yang baru saja menyelesaikan programnya, Jokowi berpesan agar ilmu yang telah didapatkan selama berlangsungnya program itu dapat terus ditingkatkan secara mandiri. Selain itu, ia juga berpesan bahwa setelah berakhirnya program tersebut, tantangan-tantangan industri justru akan semakin banyak muncul menunggu lahirnya inovasi baru dari para peserta.

“Ini bukan akhir, namun ini awal. Teruskan kembangkan kemampuan dan berinovasi. Tunjukkan SDM-SDM Indonesia bisa bersaing dengan negara-negara lain,” tandas Jokowi.(ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.