Presiden Sampaikan Pesan Perdamaian Dari Madura

Petrus - 9 October 2017
Presiden Joko Widodo menghadiri acara Hari Perdamaian Dunia di PP.An Nuqoyah, Sumenep (foto : Humas Pemprov Jawa Timur)

SR, Surabaya – Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menghadiri pembukaan Hari Perdamaian Internasional 2017, dengan tema ‘Perempuan Berdaya Komunitas Damai’ di Pondok Pesantren An-nuqayah, Kabupaten Sumenep, Minggu (8/10/2017). Selain sejumlah pejabat di tingkat pusat, hadir pula Gubernur Jawa Timur Soekarwo, dan Wakil Gubernur Saifullah Yusuf.

Presiden Joko Widodo menekankan pentingnya menjaga perdamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, mengingat Indonesia adalah  negara yang sangat besar dan majemuk, terdiri dari 34 provinsi, 516 kabupaten/kota, 714 suku, 1.100 lebih bahasa daerah dan lokal, serta bermacam agama dan budaya.

Kemajemukan itu kata Presiden, harus terus dijaga agar tidak terjadi perpecahan. Jokowi mencontohkan Afganisthan sebagai salah satu contoh negara yang tidak berhasil menjaga perdamaian. Hal ini diketahuinya saat menerima kunjungan kerja Presiden Afganisthan, Mohammad Ashraf Ghani‎, di Istana Merdeka, Jakarta, April lalu.

“Ashraf Ghani bercerita, di negaranya hanya ada tujuh suku, namun sudah lebih dari 25 tahun bertikai dan tiada henti berperang” kata Jokowi.

Peperangan yang terjadi di Afganisthan dipicu sengketa antara dua suku, namun masing-masing suku itu membawa sekutu dari negara lain, sehingga sengketa meluas hingga lima suku lainnya terlibat dan menimbulkan perang. Peperangan itu mengakibatkan negara Afganisthan terpecah jadi 40 kelompok.

Bahkan lamanya perang di dalam negeri mengakibatkan Presiden Afganisthan terpaksa berada di pengasingan di luar negeri lebih dari 23 tahun. Kondisi Afganisthan itu menjadi contoh betapa beratnya kehidupan di negeri yang tidak damai.

“Afganisthan hanya ada 7 suku, tapi bisa perang dan susah sekali didamaikan,” ujarnya.

Agar tidak seperti Afganisthan, Jokowi berpesan agar seluruh rakyat Indonesia ikut menjaga perdamaian. Bila terjadi konflik diharapkan segera dapat diselesikan, sekecil apapun konfliknya.

“Mari jaga bersama rasa persaudaraan kita, perdamaian, ukhuwah islamiyah, dan ukhuwah wathaniyah kita mulai skala kecil sampai besar. Pasalnya, terdapat 714 suku di negeri ini. Jika konflik tak segera diselesaikan, konflik itu akan meluas,” ungkap Presiden.

Jokowi manambahkan, perdamaian di Indonesia tidak dapat dipaksakan namun harus terus ditumbuhkan, dengan menumbuhkembangkan karakter yang cinta damai, tenteram, dan penuh toleransi. Karakter tersebut dapat ditumbuhkan mulai dari lingkungan terdekat hingga yang lebih luas.

Presiden Jokowi pada kesempatan yang sama, juga menyatakan dukungannya kepada Gerakan Perempuan untuk Perdamaian, yang diprakarsai Wahid Foundation bekerjasama dengan United Nation (UN) Women, sebuah lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bergerak di bidang peningkatan harkat martabat wanita. Dukungan diberikan, karena kaum perempuan adalah kunci perdamaian. Sejak dini, ibu menjadi sosok pertama yang bisa mengajarkan dan menanamkan karakter cinta damai.

“Mari kita tanamkan, tumbuhkan, dan sebarkan nilai-nilai perdamaian mulai dari keluarga, tetangga, kabupaten, provinsi, negara, hingga dunia,” imbuhnya.

Sementara itu, Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid menyatakan kekagumannya kepada perempuan Madura. Menurutnya, perempuan Madura memiliki karakter yang ulet, pekerja keras, religius, serta senang bergotong-royong. Bahkan, banyak perempuan Madura yang bisa sukses meski harus merantau di tanah orang.

Yenny Wahid mengatakan, tujuan program penguatan ekonomi keluarga ini diselenggarakan bertujuan untuk membantu perempuan di Madura meningkatkan kemampuan dalam mencari tambahan nafkah.

“Mereka bisa tetap tinggal dirumah untuk mengasuh anaknya, tetapi juga bisa membuat usaha kecil membantu pendapatan keluarganya,” kata Yenny.

Selain itu, para perempuan juga diberikan bekal untuk menerapkan nilai-nilai perdamaian di lingkungannya masing-masing, sehingga tidak mudah terpancing oleh provokasi orang-orang yang ingin menciptakan konflik di tengah-tengah masyarakat.

“Kami juga melibatkan para kiai dan para gus untuk membantu membangun pemahaman kaum perempuan terutama mengenai nilai-nilai Pancasila, karena mereka lah orang yang paling tepat untuk bicara Pancasila,” tandasnya.

Presiden Joko Widodo menyampaikan sambutan di PP Al-Amien Prenduan, Sumenep (foto : Humas Pemprov Jawa Timur)

Halaqah Kebangsaan

Selain menghadiri pembukaan Hari Perdamaian Internasional di Pondok Pesantren An-nuqayah, Presiden Jokowi juga melakukan kunjungannya ke Ponpes Al-Amien, Prenduan, Sumenep, untuk menghadiri halaqah kebangsaan bersama ulama, pengasuh, dan santri berprestasi se-Madura. Sebelum menghadiri halaqah, Presiden bersilaturahmi ke Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep.

Gubernur Jawa Timur Soekarwo di hadapan Presien menyampaikan kondisi diniyah salafiyah yang masih belum ada yang membiayai. Di Jawa Timur terdapat sekitar 1.070.000 siswa diniyah salafiyah, dengan kondisi 60 persen paralel dengan sekolah umum, sedangkan sebanyak 40 persennya masih belum paralel dengan sekolah umum.

“Inilah yang perlu bantuan Bapak Presiden,” ujar Soekarwo.

Berkaitan dengan santri berprestasi, Presiden Jokowi menyampaikan akan memberikan beasiswa bagi 500 santri berprestasi dengan melalui seleksi. Beasiswa ini diberikan untuk memberi kesmepatan santri-santri terbaik, termasuk di Madura, untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Dengan sumber daya manusia yang unggul, Indonesia diyakini akan menjadi hebat, makmur dan sejahtera.

“Kita mempunyai sumber daya alam, tapi jika sumber daya manusia tidak diperbaiki maka akan kalah bersaing dengan negara lain,” tegasnya.

Selanjutnya Presiden bersama rombongan bertolak ke SMKN 1 Sumenep, untuk menghadiri acara pembagian Kartu Indonesia Pintar (KIP).(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.