Presiden Jokowi Sebut Pembangunan Infrastruktur di Indonesia Timur Demi Pemerataan

Petrus - 26 September 2018

SR, Jakarta – Mengelola negara sebesar Indonesia bukanlah perkara gampang. Keragaman yang dimilikinya membuat setiap daerah juga memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Kondisi itu yang mendasari pemerintah┬ámembangun infrastruktur di luar Jawa.

Demikian disampaikan Presiden Joko Widodo saat menghadiri peringatan Ulang Tahun ke-50 Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, di Jakarta.

“Kenapa kita harus bangun di Papua, di Maluku Utara, di NTT, kenapa kita harus bangun di Indonesia bagian Timur? Ya kita ini bernegara, bukan berbisnis, bukan berekonomi saja,” kata Presiden Jokowi.

Menurut Presiden, jika dilihat dari hitung-hitungan ekonomi dan politik sebenarnya lebih menguntungkan membangun di Jawa. Namun, Kepala Negara menegaskan bahwa Indonesia bukan Jawa saja.

“Indonesia memiliki 17 ribu pulau. Saya lihat ketimpangan infrastruktur barat, tengah, timur, betul-betul sangat menyolok dan jurangnya sangat lebar sekali,” papar Jokowi.

Presiden menuturkan, tanpa infrastruktur yang baik maka Indonesia akan kesulitan untuk dapat bersaing dengan negara lain. Dalam paparannya, Presiden menunjukkan infrastruktur jalan di Papua sebagai contoh.

“Bagaimana negara ini bisa bersaing, mempunyai competitiveness index yang baik, mempunyai daya saing yang baik kalau infrastruktur jalan seperti itu? Enggak akan mungkin,” ucapnya.

Dalam situasi ekonomi global yang tidak menentu akibat perang dagang, serta krisis di Argentina dan Turki, Presiden mengatakan bahwa hal yang harus dilakukan adalah konsolidasi dan koordinasi yang kuat antara moneter, fiskal, dan dunia usaha. Menurutnya, jika ketiga sektor itu sudah solid, maka akan mudah membangun kepercayaan publik, pasar, hingga kepercayaan dunia internasional.

“Negara ini sekarang memerlukan itu. Kalau membangun trust dan market confidence agar dunia internasional juga pasar dalam negeri percaya, bahwa kita memiliki sebuah keseriusan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada di negara ini,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Presiden Joko Widodo juga mengatakan bahwa arah dan tujuan pembangunan Indonesia yang sudah tampak jelas harus disikapi dengan sebuah elan, daya juang, dan etos kerja yang tinggi. Bahkan perlu mengubah total mentalitas bangsa.

“Mentalitas yang berani berkompetisi, mentalitas yang berani bersaing, jangan senang diproteksi, jangan senang dilindungi,” kata Presiden.

Presiden menuturkan, nilai-nilai baru harus dimunculkan, namun tidak hanya dalam pikiran, tidak hanya dalam rencana, tidak hanya dalam bentuk teks, tetapi betul-betul nilai-nilai yang bisa dioperasionalkan di lapangan.

“Ini yang kita kurang. Ini yang harus kita perbaiki dan benahi. Ya memang kadang-kadang kita harus sakit dulu, pahit dulu. Jangan suka yang instan, jangan suka yang cepat-cepat, karena enggak ada sekarang yang instan itu. Apalagi negara sebesar ini, semua pasti ada prosesnya,” tuturnya.

Sebagai sebuah negara besar yang sangat beragam seperti Indonesia, kata Jokowi, aset terbesarnya adalah persatuan, kerukunan, dan persaudaraan. Ia pun mengajak semua pihak untuk terus menjaga hal itu, karena hanya dengan bersatu, bangsa Indonesia bisa melompat lebih maju.

“Bukan kita ini hal yang kecil-kecil diributin, diramein, sehingga strategi besar negara ini kita lupakan, strategi besar ekonomi negara ini kita lalaikan, strategi besar bisnis negara ini kita lupakan,” tandasnya.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.