Presiden Jokowi Sebut Banyak Negara Kagumi Kerukunan di Indonesia

Petrus - 26 September 2018
SR, Jakarta – Sebagai negara besar yang dianugerahi Allah SWT dengan segala keragaman, aset terbesar bangsa Indonesia adalah persatuan, kerukunan, dan persaudaraan. Maka, sudah sepatutnya seluruh elemen bangsa merawat dan menjaga tiga hal itu, terlebih karena Indonesia menjadi perhatian banyak negara.
Hal ini diungkapkan Presiden Joko Widodo, saat membuka Muktamar ke-9 Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (HIMA-PERSIS), di Pondok Pesantren Persis Usman bin Affan, Cipayung, Jakarta Timur. Ia menyampaikan bahwa negara-negara lain mengagumi kehidupan sehari-hari yang ada di Indonesia.
“Kita ini dilihat, negara-negara lain melihat kita. Dalam Konferensi Islam Wasatiyyah yang digagas oleh ulama-ulama kita, ulama-ulama besar dari negara lain datang ke sini, datang di Bogor. Mereka mengapresiasi kehidupan sehari-hari kita,” kata Jokowi, Selasa (25/9/2018).
Di antara ulama-ulama besar dunia itu, Grand Syeikh Al Azhar menyampaikan kekagumannya kepada Indonesia, meskipun berbeda-beda tetapi masih bisa menjaga harmoni, kerukunan, dan persaudaraan. Tidak hanya itu, Jokowi juga mengatakan rasa kagum itu datang dari Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani.
“Dr. Ashraf Ghani menyampaikan kepada saya. Beliau menyampaikan kekagumannya setelah saya menyampaikan, Indonesia ini memiliki 714 suku tapi bisa hidup rukun, alhamdulillah sampai saat ini, dan kita berharap insyaallah sampai akhir zaman,” ujarnya.
Kekaguman Presiden Ashraf Ghani itu terlebih karena di Afghanistan ada tujuh suku, di mana dua suku berkonflik, dan tidak pernah berakhir selama 40 tahun.
“Bahkan Ibu Rula Ghani, istrinya Presiden Ashraf Ghani menyampaikan kepada saya ‘Presiden Jokowi, dalam konflik, dalam perang yang paling dirugikan adalah dua: anak-anak dan wanita’,” lanjutnya.
Dalam kesempatan ini, Kepala Negara kembali mengajak semua pihak untuk terus merawat dan menjaga persatuan, persaudaraan, kerukunan, agar kita terus dapat membangun dan menyejahterakan rakyat. Presiden juga mengingatkan agar perbedaan pilihan politik tidak mencederai tiga aset terbesar bangsa Indonesia itu.
“Jangan korbankan persatuan dan persaudaraan kita gara-gara pesta demokrasi ini. Rugi besar bangsa ini. Inilah yang perlu saya ingatkan bahwa sinergi, harmoni, di antara kita sesama anak bangsa, sangat-sangat diperlukan bagi kita menghadapi persaingan, menghadapi kompetisi antar negara,” kata Jokowi.
Presiden kemudian mengutip satu pernyataan Ahmad Hassan, salah satu tokoh Persis, yang selalu mengedepankan adu ide dan gagasan dibandingkan konfrontasi fisik.
“Beliau pernah menyampaikan dalam tulisannya, menghindari fisik dengan sesama anak bangsa, ‘Yang dikejar tidak dapat, yang dikandung berceceran.’ Beliau yang menyampaikan, Tuan Hasan. Jelas sekali. Sekali lagi, marilah kita rawat, kita jaga bersama-sama persatuan, persaudaraan, kerukunan di antara kita,” kata Jokowi.(ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.