Presiden Jokowi Ajak Santri Muda Bersikap Optimistis Menatap Masa Depan Bangsa

Yovie Wicaksono - 24 November 2018

SR, Lampung – Presiden Joko Widodo mengimbau agar para santri muda tidak pesimis, dalam menatap masa depan Indonesia. Hal ini disampaikan Presiden  Jolo Wododo, pada sebuah kegiatan di Pondok Pesantren Salafiyah Darussalamah, Braja Dewa, Kecamatan Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur, Jumat (23/11/2018).

Sebagai sebuah bangsa besar, Indonesia kata Presiden Jokowi, memiliki berbagai tantangan yang harus dihadapi dengan sikap optimistis oleh semua elemen bangsa, tak terkecuali para santri.

“Jangan sampai pesimis, enggak boleh. Apalagi santri muda harus optimistis melihat Indonesia di tahun mendatang. Jangan sampai pesimis memandang negara ini. Tantangannya banyak, kompleks. (Negara) ini penduduknya 263 juta,” ujar Presiden.

Kepala Negara juga mengajak semua pihak untuk bersama-sama bekerja keras, dalam membangun negara Indonesia. Pembangunan yang selama ini dilakukan pemerintah, bertujuan untuk meningkatkan daya saing bangsa di dunia internasional.

“Di Lampung proses pengerjaan beberapa waduk, jalan tol, jalan di kabupaten (bertujuan) untuk bisa bersaing dengan negara lain. Antar negara berkompetisi. Kita di ASEAN kalau ketemu Presiden atau PM (perdana menteri) gandengan, batin saya pesaing ini pesaing,” lanjutnya.

Presiden Jokowi menuturkan, setelah membangun infrastruktur, mulai tahun 2019 pemerintah akan berkonsentrasi pada pembangunan sumber daya manusia (SDM). Secara lebih khusus, Presiden menyebutkan bahwa di pondok pesantren akan dibangun balai latihan keterampilan atau kerja, untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan para santri di berbagai bidang, seperti komputer, garmen, desain, atau animasi.

“Tahun depan bangun 1.000 (balai latihan kerja) dimulai Januari. Skill dibutuhkan dalam rangka persaingan dengan negara lain,” kata Presiden.

Pada kesempatan ini, Presiden Jokowi kembali berpesan agar semua pihak merawat persatuan dan kerukunan bangsa. Terlebih, mengingat Indonesia dengan jumlah penduduk mencapai 263 juta, dianugerahi Allah dengan segala keragamannya, mulai dari suku, agama, adat istiadat, tradisi, hingga bahasa daerah.

“Jangan sampai kita cerai berai, kita harus menjaga ukhuwah islamiyah kita, kita harus menjaga ukhuwah wathoniyah kita,” ucapnya.

Presiden mengatakan, gesekan biasanya terjadi ketika ada pemilihan Bupati, Wali Kota, Gubernur, atau pemilihan Presiden. Presiden mengingatkan kepada semua pihak agar tidak mengorbankan kerukunan bangsa, hanya karena pesta demokrasi yang rutin terjadi setiap lima tahun.

“Jadi keliru besar kalau kita mengorbankan kerukunan kita gara-gara pesta demokrasi itu. Kalau ada pilbup (pemilihan bupati) lihat rekam jejaknya, prestasinya, gagasannya, ide-idenya, karakternya. Kalau kita tahu, suka marah-marah atau enggak, suka ngamuk-ngamuk atau nggak, dilihat itu, harus dilihat. Kalau sudah dilihat, silakan dipilih,” tuturnya.

Presiden juga menyampaikan mengenai kebebasan berekspresi. Jokowi mempersilakan semua pihak untuk menyampaikan ekspresi atau pendapatnya dengan baik, sesuai tata krama dan sopan santun.

“Silakan berpendapat, demo juga boleh saja. Negara ini memiliki tata krama, etika, dan sopan santun. Mari kita jaga nilai itu, nilai agama, etika, tata krama kita jaga karena kita bangsa Indonesia yang terkenal akan sopan santun dan keramah tamahannya,” ujarnya.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.