Populasi Banteng Jawa Turun, Pengelolaan Kawasan Perlu Diperbaiki

Petrus - 8 February 2017
Banteng jawa di Taman Safari Indonesia II, Prigen (foto : Superradio/Srilambang)

SR, Surabaya – Banteng jawa (Bos javanicus), merupakan salah satu satwa prioritas di Jawa Timur, yang membutuhkan perhatian serius karena jumlahnya di alam yang semakin berkurang. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur, beberapa waktu lalu mengeluarkan catatan terkait kegiatan konservasi di wilayah Jawa Timur, termasuk kondisi satwa yang mengalami penurunan jumlah populasi.

Kepala BKSDA Jawa Timur, Ayu Dewi Utari mengungkapkan, banteng jawa yang ada di Jawa Timur mengalami penurunan jumlah populasi sejak 4 tahun terakhir. Hasil monitoring BKSDA Jawa Timur menyebutkan jumlah banteng jawa mengalami penurunan sejak tahun 2013 sebanyak 50 ekor, menjadi 47 ekor pada tahun 2014, turun lagi menjadi 39 pada 2015, dan tahun 2016 kemarin tinggal 22 ekor.

Penurunan jumlah populasi banteng jawa di alam disebabkan oleh alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan, yang mendesak habitat hidup banteng jawa.

“Penurunan banteng jawa terjadi di sekitar Taman Nasional Meru Netiri di Jember, itu karena habitarnya berada di antara kawasan konservasi dengam perkebunan,” kata Ayu Dewi Utari, Kepala BKSDA Jawa Timur.

Penurunan populasi banteng jawa juga terjadi di Malang selatan, serta Taman Nasional Baluran. Habitat hidup banteng jawa yang tersisa semakin berkurang akibat alih fungsi hutan menjadi perkebunan.

“Banteng jawa biasanya bergerak di area perbatasan antara hutan dan perkebunan,” ujar Ayu.

Berkurangnya jumlah satwa endemik pulau Jawa ini juga dipengaruhi oleh perburuan satwa liar oleh masyarakat. Pencegahan perburuan dilakukan melalui patroli oleh BKSDA dan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak berburu satwa liar di hutan.

“Mungkin dulu masyarakat menganggap banteng boleh diburu secara liar, tapi kami terus melakukan upaya preventif, kalau ada yang berburu atau menangkap banteng ya kita proses hukum,” lanjut Ayu, yang berharap masyarakat ikut serta menjaga kelestarian ekosistem hutan.

Ketua PROFAUNA Indonesia, Rosek Nursahid membenarkan penurunan populasi banteng jawa di alam diakibatkan oleh alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan. Selain itu perburuan satwa liar yang masih longgar pengawasannya, menjadi faktor lain berkurangnya banteng jawa di alam. Populasi banteng jawa banyak mengalami penurunan di Taman Nasional Baluran, kawasan menuju Gunung Ijen di Bondowoso, serta di Malang selatan.

“Saya tidak hafal kalau di Baluran, tapi laporan masyarakat banyak menyebutkan adanya perburuan satwa liar, meski agak sulit membuktikannya. Karena sebelumnya sangat mudah menemukan banteng jawa disana,” kata Rosek.

Selain Baluran, penurunan cukup drastis juga terjadi di kawasan Malang Selatan, tepatnya di daerah Lebaharjo dan Pujiharjo. Dari pantauan PROFAUNA Indonesia, masih dapat dijumpai banteng jawa di Malang selatan pada sekitar tahun 2000. Namun, pemantauan terakhir pada Desember 2016 lalu, banteng jawa sudah tidak ditemui lagi.

“Terakhir Desember 2016 sudah tidak menemukan banteng jawa, hutannya habis dan beralih fungsi menjadi kebun kopi,” imbuh Rosek.

Alih fungsi lahan menjadi perkebunan secara masif dan besar-besaran, telah mendesak wilayah hidup dan area jelajah banteng jawa. Rosek mengatakan, mendesak bagi Jawa Timur untuk mempertahankan dan menjaga habitat terakhir satwa liar yang semakin terancam.

Hal ini tidak lepas dari tidak adanya jaminan hukum yang memberikan hukuman berat bagi pelaku kejahatan lingkungan maupun pemburu satwa liar, meski kawasan yang menjadi area berburu dan alih fngsi lahan merupakan kawasan konservasi.

“Realitasnya pengamanan disana masih sangat minim, ada banyak pintu masuk yang tidak terawasi, pemburu, pembakar hutan, pembuka lahan masuk tanpa terdeteksi. Habitat terakhir satwa liar ini harus kita selamatkan, kalau mau menyelamatkan satwanya,” tandasnya.

PROFAUNA Indonesia mendorong pola kemitraan masyarakat untuk membantu menjaga dan mengamankan kawasan konservasi. Pelibatan masyarakat sebagai relawan untuk mengamankan kawasan dari perburuan liar maupun pembabatan hutan sangat dibutuhkan saat ini.

Pelibatan masyarakat sebagai relawan jangan hanya untuk kegiatan insidentil atau bersifat seremonial, melainkan melekat pada manajemen pengelolaan kawasan. Penjagaan kawasan jangan lagi terpusat pada titik-titik yang menjadi kawasan wisata, sementara kawasan yang banyak satwanya justru tidak diawasi dan dilindungi.

“Kawasan ini luas sedangkan jumlah personil sedikit. PROFAUNA Indonesia mendorong pola relawan yang melibatkan masyarakat, seperti yang dilakukan taman-taman nasional di luar negeri,” pungkas Rosek.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.