Politik Identitas Marak, Jaringan Gusdurian Kampanyekan Islam Damai

Yovie Wicaksono - 22 January 2019
Jaringan Gusdurian Jawa Timur Mengadakan Focus Grup Discussion (FGD) Politik Identitas dalam Pemilu 2019 di Gedung PWNU Jawa Timur, Surabaya, Senin (21/1/2019). Foto : (Jaringan Gusdurian)

SR, Surabaya – Jaringan Gusdurian Jawa Timur mengadakan Focus Grup Discussion (FGD) Politik Identitas dalam Pemilu 2019 di gedung PWNU Jawa Timur, Surabaya, Senin (21/1/2019). Salah satu tujuan FGD ini adalah mengembangkan narasi keIslaman dan keIndonesiaan untuk kontra narasi politik identitas dalam pemilu 2019.

“Gusdurian memiliki narasi keIslaman dan keIndonesiaan, yang disitu kita ingin kampanyekan adalah Islam yang ramah, damai, dan toleran secara terus menerus melalui kanal-kanal media dengan turunan beberapa isu. Tadi kita membahas mengenai kerasnya pertarungan Pemilu 2019 yang semakin banyak menggunakan politik identitas, akhirnya terus-menerus memperparah fragmentasi di masyarakat. Disini kita mencari cara supaya dampak negatif itu tidak semakin merusak,” ujar Perwakilan Sekretariat Nasional (Seknas) Jaringan Gusdurian Heru Prasetia, kepada Super Radio, usai Focus Group Discussion (FGD).

Menurut Heru, absennya kontestasi ideologi menyebabkan seluruh kekuatan politik ini mengandalkan identitas sebagai daya tarik dan daya ikat yang kuat pada konstituen.

“Yang menjadi masalah adalah politik identitas tidak berbasis pada nilai, tapi lebih pada bagaimana orang tergerak melakukan sesuatu karena identitas yang sama. Semakin politik identitas kuat maka akan terjadi perpecahan, karena sekat-sekat antar identitas itu semakin kuat,” ujar Heru.

Sementara itu, pemantik diskusi dari UIN Sunan Ampel Surabaya Ahmad Zainul Hamdi mengatakan, politik identitas tidak akan pernah hilang, dan merupakan hal yang wajar selama tidak berlebihan. Hanya saja, saat ini politik identitas sudah sedemikian eksesif sehingga identitas kelompok lebih penting daripada menjaga keutuhan bangsa.

“Politik identitas itu fenomena lama, dimana hampir semua kekuatan politik menggunakan identitas konstituen itu untuk menjaga, mengambil, atau memperbanyak suara dukungan. Politik identitas tidak akan bisa hilang, karena sebenarnya itu tidak masalah dan wajar asal takarannya tidak berlebih sampai mendelegitimasi kelompok lain, membentuk kebencian kepada kelompok lain, kemudian merasa bahwa kelompoknya adalah superior, dan kalau itu dibiarkan jatuhnya adalah chauvinistic,” ujar pria yang akrab disapa Inung ini.

Dalam FGD kali ini, Jaringan Gusdurian Jawa Timur merumuskan mengenai bagaimana melakukan kontra narasi terhadap narasi kebencian di media sosial.

“Kita merumuskan beberapa hal mengenai bagaimana melakukan kontra narasi terhadap narasi kebencian di media sosial maupun di media mainstream. Kemudian tadi ada rumusan beberapa hal yang akan berujung dengan konten-konten yang akan kita sebar di media sosial jaringan Gusdurian,” tambah Heru.

Jaringan Gusdurian Jawa Timur juga akan melakukan tindak lanjut kegiatan berupa pertemuan secara rutin, yang nantinya akan membuat jejaring aktivis media, terutama di jaringan gusdurian, NU, dan kelompok-kelompok pro demokrasi. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.