Petani Lerang Gunung Wilis Terampil Mengolah Limbah Kotoran Sapi Menjadi Pupuk Organik

Petrus - 8 November 2018
SR, Kediri – Ratusan petani yang tinggal di lereng Gunung Wilis, Kabupaten Tulungagung, memiliki kealihan dalam membuat pupuk organik dari limbah kotoran ternak yang difermentasi. Keahlihan membuat pupuk organik ini didapatkan para petani, setelah mendapat pendidikan dan pelatihan dari Bank Indonesia Perwakilan Kediri.
Menurut Joko Raharto, Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kediri, pihaknya melihat potensi membuat pupuk organik dari limbah kotoran ternak cukup besar, karena di wilayah Kecamatan Sendang Kabupaten Tulunganggung, banyak warganya yang memiliki ternak sapi. Selama ini, kotoran ternak selalu  dibuang oleh warga ke sungai, sehingga berdampak pada penurunan kualitas air.
“Kami melihat di sini ada potensi sapi, selama ini kotoranya dibuang ke sungai. Padahal itu emas hitam yang bisa difermentasi menjadi pupuk. Sehingga kami edukasi,” kata Joko Raharto, Kamis (8/11/2018).
Sebelum memiliki keterampilan mengolah pupuk organik, selama ini para petani selalu membeli pupuk kimia untuk tanamannya. Bagi para petani yang tempat tinggalnya berada di wilayah atas, terpaksa harus turun ke bawah yang jaraknya cukup jauh untuk membeli pupuk.
“Selama ini petani justru mengambil pupuk dari bawah, sekarang dengan kita latih, bisa mengolah pupuk itu untuk budidaya pertanian mereka,” ujarnya.
Sementara itu, Kristian Yuwono selaku Ketua KUB Omah Kopi, mengaku sangat terbantu dengan adanya pelatihan yang diberikan Bank Indonesia-Kediri. Melalui keterampilan yang telah dimiliki, petani bisa menekan biaya operasional selama kegiatan proses tanam, dan tidak perlu lagi mengandalkan pembelian pupuk kimia. Kotoran sapi didapat secara cuma-cuma dari para peternak. Petani hanya membeli obat pengurai bakteri seharga Rp. 40 ribu.
“Itu kan limbahnya Gratis toh, cuma membeli obat pengurai bakteri,” ujarnya.
Kristian Yuwono menilai, pembuatan pupuk organik dari kotoran hewan melalui proses fermentasi sangat mudah dilakukan oleh siapa pun.
“Pertama, dari kotoran limbah sapi itu dikeringkan, kadar airnya sekitar 12 persen nanti diberi mikrobakteri yang mempercepat penguraian. Untuk tanaman kopi sangat bagus, prosesnya hanya satu malam,” terangnya.
Selain pelatihan pembuatan pupuk, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri bersama KUB Omah Kopi, Petani, Pokdarwis, dan Perum Perhutani juga  melaksanakan kegiatan tanam kopi Arabika jenis Komasti, sebanyak 25 ribu batang tanaman kopi yang ditanam diatas lahan seluas 10 hektare, dengan melibatkan 100 orang petani. Kegiatan ini sekaligus mengkampanyekan gerakan peduli lingkungan dan pengembangan pariwisata.(rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.