Pesarean Panglima Perang Majapahit di Surabaya

Yovie Wicaksono - 16 July 2018
Pesarean Kudo Kardono di Surabaya. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Surabaya yang dikenal dengan sebutan kota Pahlawan, tidak hanya menyimpan kisah tentang perjuangan di era kemerdekaan. Salah satu buktinya adalah keberadaan pesarean Eyang Kudo (Judo) Kardono di jalan Cempaka Surabaya. Semasa hidupnya, Kudo Kardono dikenal sebagai panglima perang kerajaan Majapahit.

Kudo Kardono adalah sepupu dari Gajah Mada. Ia ditugaskan untuk menghadapi pemberontakan Ra Kuti di masa pemerintahan Jayanegara, dan berbagai persengketaan yang ada di Surabaya, Gresik, dan sekitarnya.

Karena keberhasilannya, Kudo Kardono mendapat hadiah tanah perdikan di sungai asin (kini menjadi daerah Kaliasin) dan mengembangkan kawasan yang kelak bernama Tegal Bobot Sari (menjadi Tegalsari).

“Nama Kudo Kardono dapat diartikan dari kata Kudo yang berartikan kuda, dimana dahulu Kudo Kardono menunggangi kuda berwarna putih dalam melaksanakan tugasnya, dan kata Kar yang diambil dari tugasnya, sebagai pengaman daerah pada masa Kerajaan Majapahit” ujar Sri Poniati (82), turunan ke tiga belas juru kunci Pesarean Kudo Kardono kepada Super Radio, Senin (16/7/2018).

Kudo Kardono wafat pada tahun 1520 Masehi, lalu dimakamkan di tempat ini beserta istri, satu putri, dan dua putranya. Terdapat juga dua makam pengawal Kudo Kardono diluar area inti makam keluarga Kudo Kardono.

Dulunya pesarean ini merupakan tempat pemakaman umum (TPU) terlihat dari beberapa makam yang ada dan terjaga hingga saat ini, namun pada masa Belanda TPU tersebut ditutup dan dipindahkan ke kawasan Tembok dan Ngagel, Surabaya.

Sanggar Pamujan di Kompleks Pesarean Kudo Kardono. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

Di dalam area pesarean Kudo Kardono terdapat beberapa gambar tokoh pewayangan yang terpasang di dinding, dan di pintu masuk pesarean. Berdasarkan penjelasan Sri Poniati atau yang lebih sering disapa dengan Bu Pon, wayang adalah kesukaan dari Kudo Kardono, karena di setiap tokoh pewayangan memiliki sikap masing-masing yang melekat pada diri manusia.

Selain itu, disini juga terdapat pesarean orang tua Kudo Kardono, yaitu Eyang Wahyu yang merupakan guru besar dari golongan aliran kepercayaan (kejawen).

Di sebelah pesarean Kudo Kardono terdapat Lingga Yoni dan bentuk ornamen candi.

Adapula dua sanggar di area pesarean Kudo Kardono, yaitu Sanggar Pamujan sebagai tempat ibadah penganut aliran kepercayaan, dan Sanggar Tri Murti untuk tempat ibadah umat Hindu. Tidak jauh dari sanggar juga terdapat Musholla Ujung Galuh sumbangan dari Kodim 0832 Brawijaya dan pihak lainnya yang turut berpartisipasi menjaga keberadaan pesarean ini.

“Setiap satu suro disini diadakan ritual, tumpeng untuk dayang sini, lalu sego golong agar rejeki yang pernah berkunjung kesini gemolong (berlimpah), dan nasi kuning untuk pantai selatan” ujar Bu Pon.

Pesarean Kudo Kardono tidak pernah sepi pengunjung, paling banyak pengunjung  dari kota Surabaya, namun ada juga yang datang dari luar kota seperti Nganjuk, Mojokerto, dan Mataram.

Pada tahun 1959 – 1960 pesarean ini dipugar oleh Mayjen Soedjono Hoemardani, Asisten Pribadi Presiden Soeharto. Dalam pemugaran ini, nisan yang semula batu diubah berlapis marmer. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.