Pesan Mengampuni, Pada Misa Tutup Peti Anak Korban Ledakan Bom

Petrus - 17 May 2018
Suasana usai Misa Penutupan Peti Jenazah Evan dan Nathan, korban ledakan bom di Surabaya (foto : Superradio/Srilambang)

SR, Surabaya – Suasana duka tampak menyelimuti ruang 5-7 Rumah Persemayaman Jenazah Adi Jasa, di Jalan Demak, Surabaya, Rabu (16/5/2018). 2 jenazah korban ledakan bom bunuh diri di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, terbaring di dalam peti masing-masing sementara umat melantunkan doa dan lagu duka pada Misa Penutupan Peti.

Rasa duka mendalam tidak dapat dibendung oleh pelayat yang hadir, terutama dari keluarga Evan dan Nathan yang ikut menjadi korban bersama puluhan orang lainnya. Pesan damai dan memaafkan menjadi inti dari prosesi yang dipimpin Romo Alexius Kurdo Irianto, Pastor Paroki Santa Maria Tak Bercela, didampingi sejumlah pastor.

Romo Agustinus Tri Budi Utomo, selaku Vikaris Pastoral Keuskupan Surabaya mengatakan, duka cita ini menjadi tanda perjumpaan manusia dengan Tuhan, karena peristiwa merupakan pintu rahmat untuk berjumpa Tuhan.

“Sebuah peristiwa itu adalah sebuah pintu bagi rahmat, dan sebuah peristiwa disitulah ruang dimana kita berjumpa dengan Tuhan, itu asumsi pertama menurut saya, yang pertama disadari setiap orang Kristiani,” kata Romo Tri Budi.

Peristiwa teror bom menurut Romo Tri Budi, hendaknya tidak ditanggapi dengan amarah, sehingga dapat menimbulkan reaksi yang justru menjauhkan manusia dari rahmat Tuhan.

“Jangan terjebak hanya pada logika aksi reaksi, orang marah ganti marah, orang jahat diganti dijahati, orang membunuh ganti dibunuh, minimal membunuh dalam hati yaitu wujudnya dendam dan kebencian misalnya, itu adalah jatuh kita. Nah maka pertama adalah menyadari bahwa ini adalah kairos, ini adalah sebuah kesempatan berjumpa dengan Tuhan,” ujarnya.

Jemaat yang hadir dalam Misa Penutupan Peti ini nampak tak kuasa menahan sedih, bahkan air mata tak mampu dibendung saat Wenny yang merupakan ibu dari Evan dan Nathan, harus melepas kedua anaknya.

Wenny juga menjadi korban dalam peristiwa ledakan bom, dan harus menjalani sejumlah operasi untuk mengembalikan kondisi kesehatannya. Wenny datang menggunakan kursi roda, dengan infus yang masih terpasang di tangan. Sebelumnya Wenny juga datang ke Adi Jasa dengan tempat tidur darurat, hanya untuk melihat buah hatinya yang telah pergi.

Ketua Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) Jawa Timur, Antonius Sumitomo mengungkapkan, peristiwa sedih ini merupakan sapaan Tuhan pada manusia agar semakin peduli dan mencintai satu sama lain, meskipun dirinya disakiti orang lain. Antonius Sumitomo mengajak masyarakat memaafkan pelaku kejahatan, yang sebenarnya juga menjadi korban dari pemahamannya yang keliru mengenai kemanusiaan.

“Ya kita harus maafkan, itu kan manusianya, manusia kan penuh salah, lalai dan sebagainya. Kita ini sekitarnya sekarang orang-orang tokoh-tokoh agama itu kita harus memberi tahu adanya ini kenapa, itu karena sampai umur 16 tahun ini sampai didoktrin begitu kan, itu yang salah apa, orang tua dan sekelilingnya, karena tidak perhatian pada anak,” kata Antonius.

Sementara itu Jimmy, warga Surabaya yang juga hadir untuk melayat mengatakan, semua elemen masyarakat harus bersatu melawan terorisme, sehingga tidak ada lagi masyarakat yang menjadi korban. Semangat kebersamaan dan persaudaraan antar warga bangsa harus dikedepankan, untuk menangkal tumbuhnya benih kebencian dan radikalisme di masyarakat.

“Sebagai warga negara Indonesia, kita harus keluar dari zona nyaman kita, artinya kita harus peduli yang di luar. Kita ini tidak ada perbedaan antara agama yang satu dengan yang lain, kita adalah satu bangsa Indonesia, itu yang harus dibangun. Tidak boleh ada terjadi lagi, pertama pemboman di Surabaya dan di Indonesia, kita harus merangkul semua elemen yang ada,” ujar Jimmy.

Romo Tri Budi mengajak siapa saja yang berkehendak baik, untuk terlibat dan peduli pada para korban, dengan melakukan pendampungan pada anak secara psikologis, untuk mengembalikan mental dan mengurangi trauma pada anak akibat peristiwa ini.

“Kita fokus pada korban, bagaimana korban bisa segera diselamatkan, bagaimana korban dihormati, bagaimana korban direspon dengan sungguh manusiawi. Saya berharap pada teman-teman dari psikologi, misalnya trauma healing itu jauh snagat penting. Apa yang bisa kita lakukan, menjadikan keadaan ini menjadi lebih baik,” pungkasnya.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.