Perusahaan Yang Terapkan Manajemen K3 Masih di Bawah 10 Persen

Wawan Gandakusuma - 11 December 2018

SR, Jakarta – Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan, perusahaan yang menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) kurang dari 10 persen dari seluruh perusahaan yang ada di Indonesia.

“Dari sekitar 2.000-an perusahaan, kurang dari 10 persen yang menerapkan SMK3,” kata Kasubdit Pengkajian dan Standarisasi Direktorat Bina K3 Kementerian Ketenagakerjaan, M Idham, di Kementerian Kesehatan di Jakarta, Selasa (11/12/2018).

Menurut Idham, dilansir dari Antara, jika baru sedikit perusahaan yang menerapkan SMK3 dalam lingkungan kerja perusahaan, maka hal tersebut akan sangat beresiko terjadi kecelakaan kerja.

Berdasarkan catatan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), jumlah kecelakaan kerja kerap terjadi setiap tahunnya dengan jumlah yang fluktuatif. Pada tahun 2015 terjadi 110.285 kasus, 105.182 kasus pada 2016, dan 80.392 kasus pada 2017. Menurut Idham, apabila perusahaan tidak menerapkan SMK3, dari kecelakaan kerja yang rentan terjadi akan otomatis membengkakkan biaya klaim kesehatan.

Di sisi lain, Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga Kemenkes, Kartini, menjelaskan berbagai peraturan yang dikeluarkan oleh Kemenkes dan Kemenaker, sudah cukup banyak untuk menjadi panduan dan ketentuan teknis agar perusahaan menerapkan SMK3. Seperti misalnya Kemenkes yang telah menerbitkan buku Pedoman K3, yang bisa digunakan sebagai acuan membangun budaya K3 di perusahaan.

Dalam buku tersebut dijelaskan, standar keselamatan dan kesehatan kerja antara lain mulai dari peningkatan pengetahuan kerja, pembudayaan perilaku hidup bersih dan sehat di tempat kerja, penyediaan ruang ASI dan pemberian kesempatan memerah ASI bagi ibu menyusui, kegiatan aktivitas fisik, pemeriksaan kesehatan, dan menerapkan ergonomi tempat kerja.

“Perlindungan bagi pekerja perlu dilakukan sebagai upaya meningkatkan efektivitas keselamatan dan kesehatan pekerja selaku penggerak roda perekonomian bangsa, aset bagi tempat kerja, tulang punggung keluarga, dan pencetak generasi penerus bangsa,” kata Kartini. (*/ant/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.