Pertemuan Menteri Anggota ASEAN untuk Kebudayaan Dibuka

Yovie Wicaksono - 24 October 2018
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Muhadjir Effendy Membuka Pertemuan Para Menteri dari Negara-negara Anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) yang Bertanggung Jawab untuk Urusan Kebudayaan dan Kesenian ke-8 (ASEAN Ministers Responsible for Culture and Arts) di Yogyakarta, Rabu (24/10/2018). Foto : (ANTARA)

SR, Yogyakarta – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Muhadjir Effendy membuka pertemuan para menteri dari negara-negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) yang bertanggung jawab untuk urusan kebudayaan dan kesenian ke-8 (ASEAN Ministers Responsible for Culture and Arts) di Yogyakarta, Rabu (24/10/2018).

“Atas nama Menteri Kebudayaan Anggota ASEAN, izinkan saya untuk membuka dengan resmi ASEAN Ministers Responsible for Culture and Arts pada 24 Oktober 2018 di Yogyakarta,” kata Muhadjir saat membuka pertemuan tingkat menteri itu.

Melansir Antara, pertemuan itu dihadiri antara lain Menteri Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Brunei Darussalam Dato Paduka Seri Haji Aminuddin Ihsan, Sekretaris Negara Kamboja Samraing Kamsan, Menteri Kebudayaan Thailand Vira Rojpojchanarat, Sekretaris Jenderal ASEAN Dato Paduka Lim Jock Hoi.

Menteri Muhadjir berharap agar seluruh peserta pertemuan tersebut dapat saling memberikan pemahaman dan ide-ide dalam diskusi setelah acara pembukaan itu.

“Untuk kesuksesan pertemuan ini, kami nohon bapak/ibu dapat mencurahkan pikiran dan saraanya dalam diskusi nanti,” ujarnya.

Pertemuan AMCA ke-8 itu mengusung tema “Merangkul Budaya Pencegahan untuk Memperkaya Identitas ASEAN” (“Embracing the ASEAN Culture of Prevention to Enrich ASEAN Identity”).

Indonesia mengajak para negara anggota ASEAN untuk dapat mengadopsi Deklarasi Yogyakarta di akhir pertemuan itu.

AMCA merujuk pada hasil dari Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN (ASEAN Summit) ke-31 pada November 2017, di mana para pemimpin ASEAN bersepakat untuk mengadopsi Deklarasi ASEAN tentang Budaya Pencegahan (Culture of Prevention).

Deklarasi ASEAN tentang Budaya Pencegahan bertujuan untuk menciptakan kedamaian, keterbukaan, kebangkitan, kesehatan dan masyarakat harmonis.

Deklarasi itu juga mendorong terbentuknya kebijakan dan inisiatif pembangunan dalam budaya pencegahan pada tingkat pengambil kebijakan yang diimplementasikan pada masyarakat luas.

Deklarasi itu juga mendorong dan memperkuat kesadaran serta pola pikir masyarakat dalam mempraktikkan nilai-nilai positif. (*/ant/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.