Permainan ‘Basoka’ ala Ponorogo, Sarana Menanti Waktu Berbuka Puasa

Petrus - 28 May 2018
Anak-anak Ponorogo bermain Basoka untuk menanti waktu berbuka puasa (foto : Superradio/Gayuh Satria)

SR, Ponorogo – Memasuki bulan puasa Ramadhan, masyarakat banyak yang memanfaatkan waktu menunggu berbuka puasa dengan berbagai kegiatan atau ngabuburit. Seperti yang dilakukan anak-anak di Desa Bringinan, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, yang mengisi waktu ngabuburit sambil bermain petasan, dari bekas kaleng susu yang dilubangi dan disusun hingga berbentuk pipa panjang. Petasan ini oleh anak-anak setempat disebut ‘basoka’.

Bahan-bahan yang digunakan sangatlah mudah untuk mencarinya, diantaranya beberapa bekas kaleng susu, korek api, lakban, spiritus, dan sebuah botol plastik. Sedangkan kelengkapan lain yang digunakan antara lain pisau, palu, paku, dan gunting.

Kelvin Widianto, salah seorang anak yang bermain menerangkan, langkah pertama yang dilakukan dalam membuat basoka ini adalah denagn membuat lubang seperti sebuah saringan pada kaleng susu. Setelah selesai kaleng susu ini disusun dan direkatkan menggunakan lakban agar bisa kencang. Sedangkan untuk pemicunya menggunakan pemantik korek api yang direkatkan pada sebuah botol plastik bekas.

“Membuatnya sangatlah mudah, biasanya saya dan teman-teman bermain basoka di lapangan dan sawah menjelang berbuka puasa agar suaranya tidak menggangu tetangga,” terang Kelvin, Senin (28/5/2018).

Cara bermain basoka dengan cara menyemprotkan spiritus ke dalam lubang pemantik basoka. Setelah disemprotkan, basoka kemudian digoyangkan sedikit dan pemantiknya ditekan. Suara yang dihasilkan pun sangat nyaring seperti sebuah bunyi letusan meriam.

Sementara itu, Kepala Desa Bringan, Barno menuturkan, ini adalah sebuah tradisi telah ada sejak dahulu. Anak-anak membuat meriam dari bambu dengan minyak tanah atau karbit, namun karena harga minyak tanah sekarang sudah sangat mahal dan susah untuk mencarinya, maka anak-anak membuat alternatif lain dari bekas kaleng susu.

Bermain petasan basoka ini membuat anak-anak dapat berkumpul bersama untuk bermain, bahkan tak jarang orang-orang dewasa juga memainkan permainan ini. Mereka membagi beberapa kelompok dan saling adu nyaring suara petasan masing-masing.

“Dulu bahkan ada yang model dipendam di tanah dan menggunakan karbit, itu sangat berbahaya, sehingga kami arahkan anak-anak untuk membuat dari bekas kaleng susu ini, ini aman dan tidak dilarang oleh polisi,” pungkasnya.(gs/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.