Perjumpaan yang Jujur, Terbuka dan Membuang Prasangka, Cara Hilangkan Kebencian Etnis

Petrus - 12 April 2018
Diskusi dan bedah buku Ada Aku Di Antara Tionghoa dan Indonesia di Kampus Akademi Sekretaris UKWMS (foto : Superradio/Srilambang)

SR, Surabaya – Ujaran kebencian disertai caci maki dan hinaan antar pemeluk agama, marak terjadi akhir-akhir ini di Indonesia. Kebencian didasari perbedaan keyakinan serta etnis, sehingga kebhinnekaan Indonesia masuk pada kadar yang mengkhawatirkan.

Etnis Tionghoa menjadi salah satu kelompok yang sering dibenci dan didiskriminasi, yang terjadi pada hampir setiap aspek kehidupan bermasyarakat. Survei Wahid Institute menyebutkan, bahwa etnis Tionghoa merupakan kelompok minoritas yang sering menjadi sasaran kebencian.

Pada diskusi dan bedah buku Ada Aku Di Antara Tionghoa dan Indonesia yang digelar di Kampus Akademi Sekretaris, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), menampilkan cerita dari puluhan orang yang terlibat langsung dengan etnis Tionghoa. Pengalaman perjumpaan itu dirangkum dan dituliskan pada sebuah buku, sebagai kisah sedih dan tidak menyenangkan yang dialami warga Indonesia etnis Tionghoa.

“Ini menimbulkan kegelisahan bagi banyak orang, terutama saya sebagai orang yang di luar Tionghoa, untuk berbuat sedikit lebih, yakni dengan cara merangkum cerita-cerita pedih, cerita-cerita duka, kami sebarkan ke publik supaya publik dan semua orang bisa belajar bahwa duka itu tidak enak. Itu sebabnya duka tidak boleh lagi terjadi, terutama terhadap kelompok Tionghoa dan kelompok minoritas yang lain,” kata Aan Anshori, Koordinator Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD), selaku inisiator dan editor buku Ada Aku Di Antara Tionghoa dan Indonesia.

Bedah buku dan diskusi ini menampilkan 3 penulis, dari puluhan penulis buku Ada Aku Di Antara Tionghoa dan Indonesia, yaitu Adven Sarbani, Michael Andrew, dan Abigail Susana. Serta tiga orang pembedah buku, yaitu Romo Aloysius Widyawan dosen Filsafat UKWMS, Erlyn Olivia, dan Iryanto Susilo pendiri dan aktivis Roemah Bhinneka.

Salah seorang penulis kisan di buku Ada Aku Di Antara Tionghoa dan Indonesia, Michael Andrew menuturkan, sebagai pemuda etnis Tionghoa dirinya kerap kali menerima diskriminasi, ejekan dan hinaan, dari etnis lain di Indonesia. Stigma negatif sering ia terima sebagai etnis Tionghoa, sehingga ia mengajak semua orang menyudahi dan menghapus pemberian stigma negatif kepada sesama anak bangsa.

“Sebagai etnis Tionghoa atau etnis apa pun, ayo kita sudahi stigma-stigma negatif, stigma-stigma yang memecah belah. Indonesia butuh kita senantiasa bergerak, tanpa tahu dari mana, dari etnis apa pun, kita kembali lagi kepada semangat awal, Indonesia for all Indonesian,” kata Michael Andrew, lulusan Fakultas Filsafat UKWMS.

Aksi saling ejek, hina dan bully, juga dialami Adven Sarbani, Dosen Akademi Sekretaris, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Semasa kecil hingga SMA, ia ikut melakukan ejekan dan hinaan pada warga etnis Tionghoa. Perjumpaan yang intensif dengan teman dari etnis Tionghoa saat sekolah di SMA De Brito, mulai mengubah pandangannya terhadap etnis Tionghoa. Adven merasakan bahwa setiap orang merasa tidak nyaman dan sakit hati bila dihina, sehingga aksi saling hina harus segera diakhiri.

“Kita sama-sama manusia, dilepas apa pun kulit kita, apa pun latarbelakang kita, kita sama-sama manusia. Bahwa ketika saya dihina, saya juga merasa sakit hati. Ternyata saya memposisikan diri saya ke diri mereka, itu juga sama, jangan-jangan saya juga, ketika saya menghina mereka, mereka juga sakit hati,” kata Adven.

“Ketika kita saling terbuka seperti itu, membuat kita saling bisa memahami. Akhirnya kita sama-sama, sama-sama manusia, sama-sama punya rasa sakit hati, sama-sama punya keinginan untuk dihargai, dan lain sebagainya. Itu akhirnya kita dikondisikan supaya saling tebuka dan akhirnya menjadi satu sahabat, satu saudara,” imbuhnya.

Menurut Adven, perbedaan bukan untuk dijadikan pertentangan dan bahan hinaan. Sehungga keterbukaan dan kejujuran adalah syarat utama menghadapi perjumpaan dengan orang yang berbeda etnis maupun keyakinan.

“Perlu perjumpaan yang jujur, perlu dialog yang jujur, perlu keterbukaan, perlu suasana saling memaafkan dan menerima bahwa kita sama-sama manusia, karena kalau kita masih saling tertutup ,membangun tembok tidak membangun jembatan, bagaimana kita bisa saling memahami satu dengan yang lainnya,” lanjutnya.

Abigail Susana juga mendapatkan perilaku diskriminatif karena ia merupakan anak dari ayaj seorang Tionghoa dan ibu dari Manado. Namun dirinya berusaha untuk menghilangkan perasaan berbeda dengan yang lain, melalui perjumpaan di berbagai aktivitas dengan etnis lainnya.

“Saya selalu berusaha berjumpa dengan banyak orang yang berbeda, dan tidak ada masalah bagi saya meski ada juga yang mengejek. Sekarang saya malah punya sahabat dari etnis dan keyakinan yang berbeda dengan saya,” kisah Abigail.

Kampus merupakan salah satu tempat yang tidak luput dari perilaku diskriminatif etnis maupunkeyakinan. Rektor Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Kuncoro Foe menegaskan, lembaga pendidikan mempunyai tugas dan kewajiban untuk menjaga dari segala perilaku diskriminatit, baik oleh civitas akademika, maupun tamu yang sedang berada di lingkungan kampus. Pihaknya meminta siapa saja memberikan laporan bila ditemukan perilaku negatif atau diskriminatif di kampusnya, dan akan memberikan sanksi sesuai peraturan.

“Memang menjadi tugas dan kewajiban kami di kehidupan kampus, karena memang masalah diskriminasi ini sesuatu yang mengerikan, bisa terjadi karena perbedaan yang sedemikian runcing dan dibawa oleh masing-masing pribadi yang ada di dalam kampus. Laporkan bila itu terjadi, dan kami akan tegas memberikan sanksi,” kata Kuncoro Foe.

Kuncoro Foe mengatakan, siapa saja harus menjadi agen perubahan yang meretas dan mengubah pola pikir diskriminatif, khususnya mahasiswa sebagai generasi muda penerus masa depan bangsa.

“Kami harus, sebagai pimpinan untuk memastikan, bahwa mereka justru harus menjadi agen-agen yang meretas dan mengubah pola pikir itu,” imbuh Kuncoro.

Dosen Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Romo Aloysius Widyawan mengatakan, tindakan diskriminasi rasial berawal dari ketidaktahuan akan orang lain. Selain itu, rasial telah terjadi sejak zaman kolonial hingga pasca reformasi, yang dilandasi kepentingan politik tertentu.

“Sebenarnya rasisme itu berawal dari ketidaktahuan, jadi kita tidak mau terbuka, atau ingin tahu lebih dalam lagi, ingin mencoba menggali, kenapa sih akarnya kayak gitu. Ternyata, sebenarnya ini beban sejarah kita, kita gak benar-benar mengakui bahwa dulu itu sangat cair, sangat bisa saling menerima. Tapi karena ada kepentingan-kepentingan politik tertentu, misalnya disitu ada VOC, mereka membuat segregasi-segregasi yang sampai saat ini kita masih mendapatkan semacam efeknya,” terang Romo Aloysius Widyawan.

Perjumpaan tanpa prasangka dengan kemauan membuka diri dan jujur, harus diterapkan oleh setiap orang yang menghendaki persatuan dan kesatuan Indonesia smeakin kokoh. Pendiri dan aktivis Roemah Bhinneka, Iryanto Susilo mengatakan, perbedaan yang dimiliki bangsa Indonesia harus diterima sebagai kekayaan tak ternilai, sehingga pertentangan karena perbedaan dapat dihilangkan.

“Ini yang menjadi harapan ke depan, bahwa ada keterbukaan, ada kejujuran, yang menembus batas sekat-sekat yang ada itu, Jujur, ini adalah satu langkah awal, langkah awal bahwa bisa menerima. Pintu masuk, pintu yang terbuka untuk menerima, meninggalkan prasangka untuk melangkah, bertemu, berjumpa dengan orang yang berbeda. Ini sudah satu langkah yang amat sangat luar biasa,” pungkas Iryanto.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.