Perintis Antropologi Ragawi Wafat, 52 Tahun Abdikan Diri untuk Indonesia

Petrus - 2 September 2018
SR, Surabaya – Guru Besar Ilmu Antropologi FISIP Universitas Airlangga Surabaya, Pater Prof. Dr. Habil Yosef Glinka SVD, meninggal dunia, Kamis (30/8/2018) pukul 20.55 WIB, di RKZ Surabaya.
Perintis Ilmu Antropologi Ragawi Indonesia ini meninggal dunia dalam usia 86 tahun dan tetap berstatus Warga Negara Polandia. Meninggalnya Biarawan Katolik anggota Serikat Sabda Alah (SVD), juga menjadi kehilangan bagi civitas akademika Universitas Airlangga, tempat Glinka mengajar sejak tahun 1985.
Provinsial SVD Provinsi Jawa, Pater Joseph Jaga Dawan SVD mengatakan, Pater Glinka SVD merupakan pastor panutan dalam serikat, sekaligus ilmuwan yang ikut mengembangkan bidang ilmu Antropologi Ragawi di Indonesia. Ilmu Antropologi Ragawi atau Bio Antropologi merupakan induk dari beberapa keilmuan, seperti Antropologi forensik, olah raga dan militer.
“Soal Antropologi Ragawi ini kan, dari ilmunya itu memang dia sangat mengharapkan supaya di Indonesia ini juga ada orang Indonesia yang menekuni. Dia siapkan itu di Universitas Airlangga,” kata Pater Joseph Jaga Dawan SVD.
Tidak hanya mengenai ilmu pengetahuan, Glinka yang pertama kali tiba di Indonesia pada tahun 1965, merupakan pribadi yang memperhatikan banyak hal, termasuk membangun relasi yang baik dengan masyarakat umum termasuk hubungan antar umat beragama.
“Dia punya dialog yang bagus, relasi yang baik, dan saya kira yang patut dicontoh untuk betul-betul belajar dan jangan tanggung-tanggung, betul-betul memberikan perhatian sepenuhnya,” lanjutnya.
Banyak karya yang telah dihasilkannya semasa hidul, khususnya di bidang ilmu Antropologi. Glinka menghasilkan 8 buku, 58 artikel imliah, 35 artikel popular dalam bahasa Polandia, Jerman, Inggris dan Indonesia, serta menghasilkan 13 doktor bidang Antoropologi yang dibimbingnya.
Menurut Bernada Triwara Rurit, penulis buku Biografi Pater Glinka SVD, Glinka merupakan rohaniawan sekaligus ilmuwan yang sungguh-sungguh menjalankan tugasnya. Tugasnya itu pula yang membuatnya begitu mencintai Indonesia meski bukan tanah air kelahirannya. Kecintaannya terbukti dengan hidup, karya dan matinya di Indonesia, meski masih berstatus warga negara Polandia.
“Jadi dia masih warga negara Polandia, tapi menurut saya apes saja. Apesnya karena apa, itu juga tidak berlaku kok dengan warga negara Polandia yang lain. Jadi teman-temannya Romo Glinka ada 20 orang, warga Polandia yang lain dapat kok Warga Negara Indonesia. Romo Pikor sama Romo Glinka yang tidak dapat, dari rombongan yang ada,” kisah Rurit.
Sulitnya mengurus perizinan, maraknya praktek pungli pada zaman Orde Baru, membuat Glinka tidak dapat memperoleh kewarganegaraan Indonesia meski ia menghendaki.
“Waktu itu mereka mengurusnya kan dari zaman Orde Baru. Dugaan saya pertama, Polandia dianggap sebagai negara komunis, itu yang menyulitkan. Tapi terakhir beliau pernah mengatakan, saya tidak mau mendapatkan kewarganegaraan dengan membeli,” tuturnya.
Glinka menunjukkan niatnya menjadi warga negara Indonesia dibuktikannya dengan mengurus persyaratan untuk mendapatkan kewarganegaraan. Glinka pun harus puas hanya memiliki surat izin tinggal menetap selamanya, agar ia tetap dapat berkarya di Indonesia.
“Kalau gak salah berapa kali gitu, ternyata tetap tidak dapat dan akhirnya mereka sudah patah arang. 16 tahun yang lalu kalau tidak salah terakhir mereka mencoba. Romo Glinka bilang sama saya katanya kartu itu sudah cukup membahagiakan, katanya saya tinggal di sini, saya mati di sini,” imbuhnya.
Menteri Energi dan Sumber daya Mineral, Ignasius Jonan turut hadir dalam Misa Tutup Peti, Sabtu (1/9/2018) siang, di Biara Soverdi Provinsi Jawa, Jalan Polisi Istimewa 9 Surabaya. Jonan menangkap semangat pengabdian tanpa pamrih dari Pater Glinka SVD, bagi umat Katolik serta masyarakat Indonesia secara umum. Semangat pengabdian dan karya yang diberikan bagi bangsa di bidang ilmu pengetahuan, patut ditiru oleh generasi muda masa kini.
“Ini pengabdian masyarakat, kita sendiri kadang-kadang sebagai warga negara malah kurang semangat pengabdiannya, yang banyak itu semangat mengkritik. Nah itu yang mesti dikurangi menurut saya. Kalau mengkritik saja kan gampang,” kata Jonan
Jonan yang juga Ketua Pembina Ika Unair mengatakan, pengabdian Pater Glinka SVD selama 52 tahun harus diapresiasi dan diteladani oleh siapa saja yang mengaku mencintai Indonesia.
“Pater Glinka ini kan 52 tahun dari 86 tahun hidupnya itu, hampir dua pertiga hidupnya itu diabdikan di tanah air, di Indonesia. Padahal, sampai beliau wafat pun tidak pernah bisa memperoleh kewarganegaraan Indonesia. Seorang warga negara asing mau mengabdikan dirinya untuk kepentingan masyarakat, ini bukan umat (Katolik saja) lho ya, masyarakat karena akademisi. Terakhir, di sisa hidupnya beliau ngomong, Indonesia ini tanah airku.”(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.