Peringati Hari Santri Nasional, Sejumlah Pendekar Mainkan Sepak Bola Api

Petrus - 20 October 2018
SR, Kediri – Sepak bola api tidak hanya telah menjadi tontonan yang memiliki daya tarik bagi penonton, namun telah menjadi bagian dari tradisi atau budaya di pondok pesantren. Tak terkecuali di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.
Ribuan santri berkumpul di lapangan Aula Muktamar, Pondok Pesantren Lirboyo Kediri,  untuk menyaksikan pertandingan sepak bola api yang dimainkan sejumlah pendekar yang tergabung dalam Gerakan Aksi Silat Muslimin Indonesia (GASMI).

Para Pendekar yang tergabung dalam GASMI ini semuanya berstatus sebagai santri di Pondok Pesantren Lirboyo. Sebelum permainan sepak bola api digelar, para pendekar maju ke tengah  lapangan untuk memperagakan beberapa jurus silat yang dipadu dengan tongkat api.

Ketangkasan permainan jurus silat yang diperagakan para pendekar ini, mengundang decak kagum ribuan pasang mata yang hadir. Teknis permainan bola api dibagi dalam beberapa kelompok, satu kelompok diisi lima orang. Mereka kemudian saling berhadapan dan bermain layaknya pertandingan sepak bola pada unumnya.

Bola yang dimainkan menggunakan kelapa tua yang direndam minyak tanah selama beberapa hari, kemudian dibakar api. Agar tidak membahayakan keselamatan para penonton, pihak panitia menempatkan sejumlah pendekar di batas garis lapangan. Para pendekar ini bertugas  untuk menghalau bola api agar tidak keluar dari garis lapangan yang dapat mengenai penonton.

Permainan Bola api ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan untuk memperingati Hari Santri Nasional ke 4, yang jatuh pada tanggal 22 Oktober 2018. Menurut Abdul Muid Shohib Dzuriat, perwakilan Pondok Pesantren Lirboyo Kediri mengatakan, Kegiatan ini merupakan bentuk upaya merawat atau melestarikan budaya.

“Memang selama ini dikenal di kalangan santri, memang budaya. Kalau dipikir secara logika tentu panas, tapi sebelumnya tentu ada ritual khusus,” kata Gus Abdul Muid, yang sehari-hari sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Kediri.

Salah satu pemain sepak bola api, Muhammad Maulana Zamzam mengatakan, sebelum bermain sepak bola api, dirinya bersama temanya yang lain melakukan rangkaian ritual doa dan istigosah. Ini untuk mempersiapkan mental lahir dan batin.

“Melestarikan budaya yang telah ada, oleh leluhur para masayikh. Secara logika ya panas, tapi didukung doa. Sebelum melaksanakan permainan bola api, terlibih dahulu melakukan istigosah. Persiapan dulu dan harus siap lahir dan batin,” terangnya.

Selain dihadiri pengurus pondok pesantren, peringatan Hari Santri Nasional ini juga dihadiri Kepala Disbudparpora Kota Kediri Nur Muhyar.(rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.