Peringati Hari Lingkungan Hidup, Wagub Jatim Ajak Masyarakat Wujudkan Gerakan Bersih Pantai

Petrus - 26 September 2018

SR, Probolinggo – Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf menghadiri Peringatan Hari Lingkungan Hidup se-Dunia dan Hari Konservasi Alam Nasional Provinsi Jawa Timur 2018, di Komplek Paiton Resort, Kabupaten Probolinggo, Selasa (25/9/2018).

Saifullah Yusuf mengajak kepada seluruh masyarakat Jawa Timur untuk membangkitkan gerakan bersih pantai (Coastal Clean Up) secara bersama-sama, sebagai upaya untuk mengurangi volume sampah yang berada di laut setiap harinya yang terus meningkat.

“Seiring berjalannya waktu, volume sampah di laut terus meningkat, dan ini perlu perhatian serius kita bersama,” jelas Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf.

Kondisi laut Indonesia sebagai kawasan perairan yang rawan, telah menghadapi persoalan serius yakni sampah plastik. Sampah yang berasal dari daratan dan dibuang ke laut itu jumlahnya mencapai 80 persen, dari total sampah yang ada di laut. Bukan saja spesies laut yang terdampak, tetapi sampah plastik ini juga akan mengancam kelangsungan hidup manusia, terutama bahan pangan yang berasal dari hewan laut, seperti ikan, kerang, tiram dan sebagainya.

“Sampah merupakan bagian dari kehidupan, sedangkan keberadaannya tidak lepas dari perkembangan manusia. Oleh sebab itu kita tidak mungkin membersihkan atau meniadakan 100 persen sampah. Dan semakin maju manusia, sampah yang dihasilkannya pun semakin banyak dan beragam,” terang Gus Ipul.

Data menyebutkann bahwa timbunan sampah di Jawa Timur mencapai 6,2 juta ton/tahun, dimana 19,16 persen atau 1,2 juta ton/tahun diantaranya berupa sampah plastik, dengan peningkatan rata-rata sebesar 2-4 persen per-tahun, yang bersumber dari kemasan (packaging) makanan dan minuman, kemasan consumer goods, kantong belanja serta pembungkus barang lainnya.

Secara umum, total timbunan sampah plastik yang telah didaur ulang diperkirakan baru 10-15 persen. Selain itu, 60-70 persen ditimbun di tempat pembuangan akhir (TPA) dan 15-30 persen belum dikelola dan terbuang ke lingkungan, terutama ke di perairan seperti sungai, danau, pantai dan laut.

Kondisi ini diperparah dengan tidak sebandingnya peningkatan infrastruktur pengelolaan sampah dan upaya pengurangan sampah dengan penerapan konsep Reuse, Reduse, Recycle (3R), serta masih terbatasnya lokasi dan sarana/ prasarana operasi TPA.

Dikatakan oleh Gus Ipul, ada tiga aspek penting untuk penguatan komitmen penanganan permasalahan sampah, yaitu melalui peran serta masyarakat, swasta dan pemerintah.

“Pemerintah telah mengeluarkan program yang pro lingkungan, pihak swasta perlu menyadari akan pentingnya pemanfaatan sumber daya alam (SDA) yang berkelanjutan, dan peran masyarakat diharapkan bisa melakukan aksi-aksi ramah lingkungan hidup seperti memilah dan membuang sampah pada tempatnya, menanam dan memelihara pohon atau juga menggunakan energi secara bijak,” ujar Gus Ipul.

Penanganan sampah plastik oleh pemerintah telah dilakukan melalui rencana aksi penanggulangan sampah plastik, untuk mengurangi 70 persen kontribusi terhadap sampah plastik di laut sebelum tahun 2025.

“Upaya ini butuh kerja keras luar biasa, mengingat penggunaan plastik sudah sangat membudaya,” imbuhnya.

Pemprov Jawa Timur pada kesempatan ini menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh elemen masyarakat yang telah terlibat dalam upaya menjaga dan melestarikannlingkungan, dengan mengaugerahkan penghargaan Adiwiyata Provinsi, Desa/Kelurahan Berseri, Pelestari Fungsi Lingkungan dan Penghargaan Laporan Pengelolaan Lingkungan Bagi Dunia Usaha.

“Penghargaan ini merupakan salah satu bukti besarnya komitmen dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, yang patut dipertahankan dan bahkan ditingkatkan,” kata Gus Ipul.

Namun, Gus Ipul menyadari bahwa masih terdapat beberapa persoalan terkait lingkungan hidup yang harus segera diselesaikan secara bersama-sama, untuk menguatkan komitmen dan motivasi dalam perlindungan pengelolaan lingkungan hidup di Jawa Timur. Produsen harus memiliki tanggung jawab terhadap siklus hidup produk-produknya atau extended producer responsibility (EPR), menarik kembali kemasannya atau mendaur ulang.

“Kunci keberhasilannya terletak pada kesadaran seluruh masyarakat bahwa sampah plastik adalah musuh baru umat manusia,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur, Diah Susilowati mengatakan, peringatan hari Lingkungan Hidup yang jatuh pada 25 September 2018 disinergikan dengan hari Konservasi Alam Nasional yang jatuh pada 5 Juni 2018. Kedua acara ini mengusung tema “Kendalikan Sampah Plastik” Beat Plastic Pullution. Tema ini merupakan isu yang mengandung nilai strategis untuk mengurangi dan mengendalikan sampah plastik, sekaligus bertujuan mengatasi bahaya sampah plastik, serta mensosialisasikan agar sampah plastik dikelola dengan cara reuse (menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama tau lainnya, reduse (mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah) dan recycle (mengolah kembali/ daur ulang sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.