Perguruan Tinggi Berperan Penting Berikan Pemahamam Kesetaraan dan Keadilan Gender

Petrus - 27 September 2018
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Yohana Yembise membuka acara PUSPA didampingi Wagub Jatim Saifullah Yusuf, di Surabaya (foto : Humas Pemprov Jawa Timur)
SR, Jakarta – Peran Perguruan Tinggi dinilai penting dalam memasyarakatkan pemahaman tentang kesetaraan dan keadilan gender. Salah satu tantangan dalam pelaksanaan Pengarus Utamaan Gender (PUG) adalah pemahaman masyarakat di semua lapisan tentang kesetaraan gender. Demikian pernyataan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise, di Jakarta, Kamis (27/9/2018).
“Strategi PUG diperlukan untuk memastikan semua lapisan masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan, anak laki-laki, anak perempuan, penyandang disabilitas, lansia dan kelompok rentan lainnya, bisa terlibat dalam proses pembangunan. Oleh karenanya, dibutuhkan peran Perguruan Tinggi dalam memasyarakatkan pemahaman tentang kesetaraan dan keadilan gender,” kata Yohana.
Menurutnya, pemahaman mengenai kesetaraan dan keadilan gender menjadi semakin penting, ketika masyarakat sadar bahwa angka kekerasan terhadap perempuan semakin tinggi.
Berdasarkan Survey Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2016 yang dilakukan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bekerjasama dengan Badan Pusat Statistik (BPS), angka kekerasan perempuan di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Survey itu membuktikan bahwa 1 dari 3 perempuan usia 15-65 tahun mengalami kekerasan fisik dan atau kekerasan seksual sepanjang hidupnya.
Selain itu, terungkapnya berbagai kasus kejahatan seksual akhir-akhir ini di beberapa daerah, yang dapat disaksikan di berbagai media menimbulkan kekhawatiran. Perempuan dan anak menjadi objek sekaligus korban dari kejahatan ini.
“Pemahaman yang ada saat ini merupakan pemahaman yang sebagian besar dipengaruhi oleh budaya setempat, dan dibangun dari pemikiran agama yang kurang tepat,” kata Yohana.
Menurutnya, hal ini mengakibatkan timbulnya praktek-praktek diskriminasi dan kekerasan di masyarakat. Maka dari itu pemerintah berharap, muncul pemahaman tentang kesetaraan dan keadilan gender yang benar dan tepat.
Pemahaman ini diharapkan dapat secara terus menerus dibawa dan dilembagakan dalam masyarakat melalui peran seluruh lapisan masyarakat, termasuk peran Perguruan Tinggi dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
“Nah, mengapa Perguruan Tinggi? Perguruan Tinggi memiliki peranan penting dan strategis untuk menyebarluaskan pengetahuan, nilai, norma, dan ideologi, serta pembentukan karakter bangsa, tidak terkecuali  kesetaraan dan keadilan gender,” ujar Yohana.
Strategi PUG dilaksanakan dengan cara memastikan, baik laki-laki maupun perempuan dapat mengakses, berpartisipasi, dan ikut dalam pengambilan keputusan, serta mendapat manfaat dari hasil pembangunan.
Salah satu ukuran kemajuan PUG adalah bagaimana memastikan laki-laki dan perempuan menjadi sumberdaya manusia potensial yang perannya sama-sama menentukan keberhasilan pembangunan responsif gender.
Pemerintah Indonesia melalui Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang pengarus utamaan gender dalam pembangunan nasional, mengamanatkan kepada seluruh pimpinan Kementerian/Lembaga dan pimpinan daerah termasuk Perguruan Tinggi sesuai dengan tugas, fungsi dan kewenangannya masing-masing, untuk melaksanakan strategi pengarus utamaan gender dalam pencapaian kesetaraan dan keadilan gender.
“Melalui peran dan tugas ini diharapkan Perguruan Tinggi dapat membantu membangun dan meningkatkan pemahaman tentang kesetaraan gender yang lengkap. Hal ini akan berdampak pada pengetahuan, sikap dan perilaku mahasiswa dalam praktek kehidupan sehari-hari, dan profesi yang akan dijalani. Pada akhirnya dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perubahan di masyarakat, teruatama ke arah masyarakat yang lebih toleran, anti diskriminasi dan anti kekerasan,” tandas Yohana.(ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.