Perempuan Lakardowo Tuntut Penuntasan Kasus Limbah B3, Lakukan Aksi Duduk Diam di Depan Kantor Gubernur Jawa Timur

Yovie Wicaksono - 16 August 2018
Perempuan Lakardowo, melakukan aksi di depan Kantor Gubernur Jawa Timur, menuntut penuntasan kasus pencemaran limbah B3 di desa mereka (foto : Superradio/Srilambang)

SR, Surabaya – Gerakan Perempuan Lakardowo Mandiri atau disingkat Green Woman, menggelar aksi duduk diam di depan Kantor Gubernur Jawa Timur, di Jalan Pahlawan 110 Surabaya. Aksi yang dilakukan sejak Jumat (10/8/2018) hingga Kamis (16/8/2018) bertujuan mendesak Gubernur Jawa Timur Soekarwo untuk menyelesaikan persoalan pencemaran limbah B3 (bahan berbahaya beracun) yang diduga dilakukan PT. PRIA (Putra Restu Ibu Abadi) yang berada di wilayah Desa Lakardowo, Kabupaten Mojokerto.

Beberapa karton bertuliskan tuntutan, salah satunya mengenai limbah B3 dan lingkungan yang bersih, dikalungkan di depan dada, sementara mulut mereka ditutup kain hitam sebagai simbol suara yang tidak lagi dapat didengarkan.

Juru Bicara aksi Gerakan Perempuan Lakardowo Mandiri, Sutama mengatakan, perempuan Lakardowo berharap Gubernur Jawa Timur Soekarwo segera mendesak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk segera menyampaikan hasil audit lingkungan atas PT PRIA.

“Makanya kami ini meminta Pakdhe Karwo untuk mendorong KLHK supaya menjelaskan hasil audit (lingkungan) itu seperti apa sih, kok sampai hampir dua tahun ini belum dikeluarkan,” kata Sutama.

Warga Desa Lakardowo, Heru Siswoyo menuturkan, aksi perempuan Lakardowo ini dilakukan karena terinspirasi aksi perempuan pegunungan Kendeng, Jawa Tengah, yang menolak keberadaan pabrik semen di sekitar desa mereka.

Pencemaran lingkungan yang disebabkan aktivitas oleh pengolahan limbah B3 oleh PT. Putra Restu Ibu Abadi (PRIA), paling dirasakan dampaknya oleh kaum perempuan di Desa Lakardowo.

“Pertama, memang melihat perjuangan Kendeng itu, kita mendapatkan inspirasi. Nah dari situ, dampak itu yang paling dirasakan adalah, pertama kali adalah ibu-ibu. Dari segi air kalau mau masak, kita tidak bisa langsung menggunakan air dari sumber, melainkan kita harus beli air kemasan untuk memasak, untuk mandi, bahkan untuk balita yang baru lahir itu,” kata Heru.

“Jadi, ibu-ibu dari Lakardowo ini sebagai simbol, mereka menunjukkan bahwasannya air menurut ibu-ibu Lakardowo adalah kebutuhan yang paling utama, dan tidak bisa ditoleril kebutuhan mereka,” imbuhnya.

Kondisi lingkungan di Desa Lakardowo kata Sutama, masih dalam kondisi buruk. Hal itu dibuktikan dengan adanya sejumlah anak yang menderita penyakit gatal-gatal, maupun gangguan pernafasan pada orang dewasa. Pencemaran akibat limbah B3 disebut telah mempengaruhi kualitas udara dan air yang ada di desa mereka.

“Kondisinya sih semakin parah, contohnya anak-anak kecil itu semakin banyak yang kena penyakit gatal-gatal, terus air kami itu semakin lama itu TDS-nya (kesadahan) itu semakin tinggi, sudah tidak berani memakai air itu,” ujar Sutama.

Warga terpakaa harus mengeluarkan biaya tambahan, karena membeli air untuk masak, minum, serta air mandi balita.

“Cuma buat mandi orang dewasa sama cuci baju, pakai air yang ada sekarang. Kalau dari bau udara, setiap hari itu bau, sangat parah kalau pas pembakaran itu,” imbuhnya.

Heru berharap, warga Desa Lakardowo dapat kembali menikmati kondisi lingkungan yang baik san sehat, seperti saat pabrik pengolahan limbah B3 belum ada di wilayah Desa Lakardowo.

“Intinya kita membutuhkan lingkungan yang baik, yang sehat dan bersih, jadi kita semua berhak untuk menjaga dan mempertahankan lingkungan kita,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur, Diah Susilowati mengatakan, pemerintah provinsi akan melakukan remediasi sebagai upaya untuk memperbaiki lingkungan yang tercemar, sambil menunggu hasil audit oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Di dalam sudah ada audit lingkungan oleh tim pusat, ya kita tunggu saja hasi audit. Tapi, intinya kan perbaikan lingkungan, di sana nanti rumah-rumah penduduk yang sudah terlanjut diurug (ditimbun) ya akan kita remediasi,” kata Diah.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.