Perbedaan HIV dan AIDS

Yovie Wicaksono - 1 December 2018
Ilustrasi

SR, SurabayaKnow Your Status atau kenali statusmu merupakan tema dari Hari AIDS Sedunia  2018 yang diperingati setiap 1 Desember. Tema tersebut diangkat untuk mengajak semua orang mengenali status infeksi HIV mereka agar mendapatkan penanganan yang maksimal.

Banyak masyarakat yang masih menganggap HIV ataupun AIDS adalah hal yang tabu sehingga tidak berani memeriksakan kondisinya, bahkan ada yang menganggap bahwa HIV dan AIDS adalah satu kesatuan. Melansir hallosehat.com, HIV dan AIDS adalah dua kondisi yang berbeda.

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, dimana virus ini dapat ditularkan dan menginfeksi orang lain melalui pertukaran cairan tubuh manusia seperti darah, cairan vagina, cairan mani serta ASI. Namun tidak menular melalui keringat, air ludah, air mata.

Sedangkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome)  adalah sebuah penyakit yang diakibat oleh infeksi HIV. Jika terdiagnosis positif AIDS tentu memiliki HIV, sedangkan orang yang terjangkit HIV belum tentu terkena AIDS.

Tes darah atau air liur dapat mendeteksi apakah Anda telah terinfeksi HIV. Meski demikian, tes ini hanya efektif untuk beberapa minggu setelah infeksi. Sementara untuk diagnosis AIDS jauh lebih rumit. Ada beberapa faktor yang dapat menentukan kapan infeksi HIV dalam tubuh telah berubah menjadi AIDS.

AIDS dapat menurunkan angka harapan hidup pengidapnya jika terus dibiarkan tanpa pengobatan. Pengidap HIV yang telah memiliki AIDS biasanya dapat bertahan hidup sekitar 3 tahun.

Namun kemajuan teknologi medis modern membuat harapan hidup seorang penderita AIDS saat ini jauh lebih baik dari sebelumnya. Ada banyak pengidap HIV yang tidak mengidap AIDS seumur hidupnya.

Terlepas dari perbedaan HIV dan AIDS, setiap pengidapnya membutuhkan hal yang sama, yaitu pengobatan yang tepat agar dapat meningkatkan kualitas hidup dan produktivitasnya, sekaligus mencegah risiko penularan penyakit pada orang lain.

Selain itu dukungan dan kasih sayang dari lingkungan sekitar adalah hal penting yang mereka butuhkan dalam melakukan pengobatan hingga tuntas serta menghilangkan stigma negatif dimasyarakat. Karena pada dasarnya yang harus dijauhi adalah penyakitnya, bukan orangnya

Sekedar informasi, tren angka kematian akibat AIDS di Indonesia juga terbukti dilaporkan cenderung terus menurun, yaitu dari 13.86% pada tahun 2004 menjadi 1,08% pada Desember 2017. Hal ini membuktikan bahwa upaya pengobatan HIV/AIDS yang sudah dilakukan sejauh ini berhasil mengendalikan perkembangan penyakitnya. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.