Penuhi Kebutuhan Tenaga Kerja, Pemprov Jatim Berupaya Tingkatkan Kualitas Lulusan SMK

Petrus - 5 May 2018
Gubernur Jawa Timur Soekarwo, menghadiri pameran karya siswa di Surabaya (foto : Humas Pemprov Jawa Timur)

SR, Surabaya – Pemerintah Provinsi Jawa Timur berupaya meningkatkan kualitas serta standar lulusan SMK, agar dapat terserap maksimal di dunia kerja atau industri. Gubernur Jawa TImur Soekarwo mengatakan, saat ini di Jawa Timur memiliki 1996 SMK dengan jumlah lulusan 220.958. Namun, hanya 64,11 persen yang bisa diterima di industri.

Kondisi ini menunjukkan bahwa dari total jumlah SMK di Jawa Timur, sekitar 40 persen lulusannya belum terstandar. Sementara, total tenaga kerja terampil di Jawa Timur, baik dari lulusan SMK, SMK Mini, BLK, dan Politeknik, sebanyak 234.088 orang.

“Lowongan tenaga kerja yang tersedia di Jawa Timur mencapai 390 ribu hingga 400 ribu, dan baru bisa dipenuhi 234 ribu. Kita masih kekurangan tenaga terampil sekitar 100 ribu lebih,” ungkap Soekarwo.

Pemprov Jawa Timur menargetkan program vokasional dapat selesai pada tahun 2019, sehingga terpenuhi target komposisi SMK 70 persen dan SMA 30 persen, serta menaikkan standar SMK minimal terstandarisasi Badan Standarisasi Nasional (BSN) khususnya swasta.

“Pekerjaan besar kita yakni menutup kebutuhan tenaga kerja yang ada di Jawa Timur, dan solusinya hanya melalui rekonstruksi pendidikan lewat pendidikan SMK dan program dual track,” kata Sorkarwo.

Pada tahun 2018 ini, Pemprov Jawa Timur telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp. 300 miliar, untuk pembangunan inkubator-inkubator pelatihan. Hal ini sebagai upaya meningkatkan standar kualitas lulusan SMK, dan untuk membuka dan menyerap tenaga kerja di bidang industri, serta mewadahi siswa SMK yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi.

“Lewat inkubator-inkubator yang dibuat nantinya akan semakin melatih ketrampilan siswa-siswa SMK dan bisa menjawab tantangan dunia usaha dan industri,” terang Soekarwo.

Desain revitalisasi SMK telah dibuat oleh Pemprov Jawa Timur melalui link and match dengan industri, program filial dengan perguruan tinggi, pembentukan SMK BLUD dan double track ekstra kurikuler vokasi di SMA dan MA. Selain itu, ada pula SMK berbasis kluster yang fokus untuk mengelompokkan vokasional tertentu.

“Misalnya di suatu daerah memiliki potensi unggulan perikanan, maka kita akan membuat SMK yang khusus menangani perikanan,” tuturnya.

Peningkatan kualias sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi, diharapkan dapat memenuhi lowongan tenaga kerja yang ada, sehinga mampu menurunkan angka pengangguran di Jawa Timur. Selain itu, terpenuhinya tenaga kerja terampil atau skill melalui pendidikan vokasi, merupakan jawaban agar Jawa Timur terhindar dari middle income trap.

”Untuk menghindari pendapatan perkapita Jawa Timur pada posisi lower income trap, maka penguatan UMKM dan peningkatan SDM melalui vokasional inilah jalannya,” pungkasnya.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.