Pentingnya Pembiasaan Etika Budaya Jawa Sejak Usia Dini

Yovie Wicaksono - 22 November 2018

SR, Surabaya – Perkembangan kehidupan masyarakat di zaman modern dan serba cepat, menyebabkan etika serta norma semakin terabaikan, termasuk pada etika budaya Jawa. Maka, etika budaya Jawa harus dibiasakan sejak dini oleh orang tua hingga generasi muda. Hal ini disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Heru Tjahjono, saat menghadiri pembukaan Kongres Kebudayaan Jawa (KKJ) II, di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Rabu (21/11/2018) malam.

Heru mengatakan, etika budaya Jawa jika diartikan dengan kondisi hari ini, sebagai proses pembentukan karakter yang positif. Namun, keberadaan etika budaya Jawa semakin hari dirasa sangat mengkhawatirkan karena banyak dilupakan, terutama bagi generasi muda penerus bangsa dan negara.

Maka, sebagai orang yang hidup, tinggal dan besar di Jawa, haruslah mampu membiasakan etika budaya Jawa sejak dini, agar dapat memahami dan menghormati antar sesama manusia.

Sebagai contoh, setiap orang Jawa pasti mengenal dan meresapi kata nyuwun sewu atau budaya permisi, dan matur nuwun atau budaya terima kasih. Budaya permisi merupakan salah satu bentuk atau sikap santun yang selalu diajarkan oleh orang tua kepada anak, untuk selalu menghormati orang yang lebih tua.

“Budaya permisi atau nyuwun sewu ini sekarang mulai pudar. Banyak anak muda yang acuh terhadap bentuk etika budaya Jawa seperti ini,” ujarnya.

Sama halnya dengan matur nuwun atau budaya terima kasih harus dilakukan, tidak hanya sebagai orang Jawa saja. Budaya mengucapkan terima kasih itu, erat kaitannya terhadap personal seseorang dalam berinteraksi secara positif antar sesama makhluk.

“Ini yang harus kita jaga kembali. Saya menilai ini persoalan etika budaya yang tercermin dalam pembentukan karakter seseorang,” imbuhnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menegaskan, budaya Jawa dapat berperan sebagai salah satu pencegah korupsi. Nilai-nilai maupun norma sosial yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat, seperti gotong royong, saling membantu, dapat melawan korupsi di tingkat masyarakat.
Ganjar memandang, proses kebudayaan Jawa saat ini telah bergerak dan berkembang, tidaklah statis. Kegiatan yang mengarah kepada kebaikan dalam kehidupan masyarakat secara positif harus terus di dorong.

“Saya sepakat, bahwa etika serta pembentukan karakter harus terus di dorong dan dilakukan secara bersama. Sanksi sosial harus dipersiapkan agar pelaku korupsi tidak semakin besar di negara ini,” tutupnya.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.