Pentingnya Bentengi Anak dari Informasi yang Merusak Karakter

Fena Olyvira - 9 March 2019
Aktivis Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) menjelaskan tentang hoax kepada sejumlah pelajar. Foto : (Antara)

SR, Jakarta – Ketua Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Septiaji Eko Nugroho mengatakan seiring dengan berkembangnya teknologi digital maka perlu ada upaya untuk membentengi anak bangsa terhadap informasi yang dapat merusak karakter.

Meski tidak mudah, kata Septiaji, hal tersebut harus dilakukan, dimulai dari lingkup keluarga terlebih dahulu. Orang tua hendaknya tak melepas begitu saja mengakses internet tanpa pengawasan.

“Ini sangat berbahaya karena ada titik ketika nanti si anak merasa lebih percaya kepada informasi yang dia baca di internet daripada harus percaya dengan informasi dari guru atau orang tuanya,” ujar Septiaji kepada Antara di Jakarta, Sabtu (9/3/2019).

Menurutnya, ketika anak mulai menggunakan teknologi maka orang tua harus punya pemahaman yang kuat terkait bagaimana mendidik anak menggunakan teknologi digital dengan baik yang biasa disebut digital parenting.

“Ini agar jangan sampai anak terpapar hal-hal yang bisa membahayakan dia secara keamanan atau mengunyah konten-konten negatif seperti ujaran kebencian ataupun juga konten-konten yang terkait dengan radikalisme,” katanya.

Di lingkup masyarakat perlu ada gerakan untuk membuat aktivitas offline supaya anak-anak kembali saling bertatap muka, beraktivitas nyata bersama sehingga tidak tenggelam dalam dunianya sendiri.

Di lingkup lembaga pendidikan, kata Septiaji, anak-anak perlu diberikan materi terkait literasi digital agar memiliki kemampuan menggunakan berbagai perangkat teknologi digital dengan baik, dan juga literasi media agar tidak gampang menelan mentah-mentah informasi yang diperoleh.

Ia berharap bisa dibuatkan suatu kurikulum yang integratif oleh pemerintah. Kalaupun bukan kurikulum khusus, setidaknya bisa disisipkan atau diintegrasikan dengan kurikulum yang sudah ada.

“Pemerintah punya kurikulum TIK (Teknologi, Informasi dan Komputer), tetapi saya rasa perlu dipertajam dan diperkaya sehingga ketika anak-anak bertemu dengan teknologi digital bisa menjadi lebih produktif, bukan justru sebaliknya,” katanya.

Menurut Septiaji, anak-anak hendaknya diarahkan menjadi produsen konten, bukan sekadar menjadi konsumen.

“Hal-hal seperti itu yang perlu kita tanamkan dan perlu kita masukkan dalam kurikulum sehingga mereka tidak gagap dan bahkan bisa menangkal konten yang menyesatkan saat menggunakan teknologi digital,” katanya. (*/ant/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.