Peninggalan 5 Kerajaan Nusantara Tersimpan di Museum Mpu Purwa

Petrus - 7 November 2018

SR, Malang – Indonesia memiliki banyak kisah dan cerita mengenai kejayaan kerajaan-kerajaan pada masa lalu, yang dapat dilihat dari berbagai benda peninggalan sejarah yang masih ada hingga saat ini. Benda bersejarah peninggalan masa lalu itu bercerita mengenai kehidupan masyarakat dari berbagai dimensi waktu, dalam kerajaan-kerajan yang pernah ada di Nusantara ini. Artefak, atau benda-benda peninggalan bersejarah dimasanya, saat ini dapat dilihat di museum sejarah.

Di Museum Mpu Purwa yang berada di Jalan Soekarno Hatta No. 210, Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, Kabupaten Malang, merupakan salah satu museum yang menyimpan artefak dari lima kerajaan yang pernah ada di Nusantara, mulai dari Kerajaan Kanjuruhan, Mataram Kuno, Kediri, Singasari, hingga Majapahit. Sebanyak 136 koleksi asli berada di museum itu, diantaranya prasasti, arca, bangunan candi, prasejarah, dan antropologi.

Koleksi terbanyak yang ada di Museum Mpu Purwa adalah peninggalan Kerajaan Majapahit akhir, sedangkan empat kerajaan lainnya hanya ada beberapa koleksi, seperti makara, lingga yoni, benda prasejarah seperti batu gores dan batu lumpang, arca Siwa Mahaguru atau Agastya, dan Prasasti Dinoyo 2 yang merupakan peninggalan Kerajaan Kanjuruhan.

Peninggalan dari Kerajaan Mataram Kuno adalah Prasasti Bulul dan arca Singa Stambha, sedangkan arca Ganesha Tikus, arca Bodhisattva Manjusri, fragmen Garuda Wisnu, dan arca Wisnu, adalah peninggalan Kerajaan Kediri.
Peninggalan lainnya adalah Budha Asobya, arca Brahma, Prasasi Muncang, Ganesha, dan Bodhisattva Avalokitesvara dari Kerajaan Singasari.

Menurut juru pelihara Museum Mpu Purwa, Mimin Yuni Marita, diantara semua koleksi yang ada, arca Siwa Mahaguru atau Agastya menjadi koleksi tertua sekaligus koleksi terlangka.

“Arca Siwa Mahaguru peninggalan Candi Badut ini merupakan koleksi tertua dan terlangka yang ada disini, dikatakan terlangka karena wujudnya beda dari arca Agastya pada umumnya. Seperti senjatanya Trisula yang menancap dibunga teratai, menggunakan ikat kepala supaya rambutnya terurai, tengkuknya berlubang, perutnya tidak buncit, dan Agastya yang biasanya pakai celana, ini menggunakan kain,” jelas Mimin, kepada Super Radio, belum lama ini.

 

Sedangkan untuk koleksi terbaru adalah Singa Stambha yang 2016 lalu dievakuasi dari belakang rumah warga. Selain arca Siwa Mahaguru, Arca Singa Stambha yang terdapat angka tahunnya juga tergolong koleksi langka karena jarang ditemukan. Tidak terkecuali arca Ganesha Tikus peninggalan Kerajaan Kediri, merupakan koleksi langka yang hanya ada di Museum Mpu Purwa.

“Arca Ganesha Tikus peninggalan Kerajaan Kediri juga hanya ada disini, karena tidak ada arca Ganesha yang tempat duduknya ada seekor tikusnya, ini ikonnya di Indonesia, jadi bendanya hanya ada satu,” tambah Mimin.

Museum Mpu Purwa juga menyediakan ruang movie yang menayangkan dokumenter mulai zaman Hindu sampai Islam masuk di Indonesia. Dinding lini masa, miniatur yang menggambarkan sejarah kerajaan di Nusantara, dan patung perumpamaan sosok Gajayana, raja dari Kerajaan Kanjuruhan.

“Banyak yang tidak tahu perwujudan dari Gajayana itu seperti apa, kalau Prajnaparamita diibaratkan Ken Dedes, tapi Gajayana tidak tau. Akhirnya diumpamakan seperti patung itu, yang menceritakan dia sama putrinya yang bernama Uttejana, entah mau pergi kemana, dan memberi pesan saat merestui putrinya itu,” tambah Mimin.

Sebelum bertempat di Museum Mpu Purwa, koleksi yang ada di tempat yang saat ini sempat berpindah lokasi sebanyak empat kali. Pertama sekitar tahun 1970-an disimpan di kantor Dinas Pekerjaan Umum (DPU) yang ada di Jalan Halmahera. Kemudian berpindah ke Taman Rekreasi Senaputera, dan dititipkan di Rumah Makan Cahyaningrat, dan di sebagian ruangan Perpustakaan Umum, hingga akhirnya menggunakan bekas SD Mojo langu 2 yang tidak terpakai, dan difungsikan sebagai balai penyelamatan cagar budaya.

Museum ini saat 2003 baru didirikan, dan 2 Mei 2004 diresmikan oleh Wali Kota Malang, Peni Suparto. Setelah revitalisasi tahun 2017, Museum Mpu Purwa diresmikan pada 14 Juli 2018. Pemberian nama Mpu Purwa, karena Mpu Purwa merupakan seorang Brahmana, ayah dari putri Ken Dedes, sosok yag melahirkan keturunan raja Jawa. Museum Mpu Purwa buka setiap hari mulai 08.00–15.30 WIB.(fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.