Peneliti ITS Ubah Limbah Ikan Jadi Pakan Ikan Ekonomis

Petrus - 2 January 2018
Produk pakan ikan Z-Fosh dari produk limbah ikan (foto : Humas ITS)

SR, Surabaya – Limbah ikan masih menjadi persoalan sebagian masyarakat yang bergerak di bidang usaha perikanan, karena masyarakat tidak dapat melakukan hal lain selain membuangnya sebagai sampah.

Melalui tangan para peneliti di Departemen Biologi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, limbah ikan dapat diubah menjadi pakan ikan berprotein tinggi dan bernilai jual ekonomis. Melalui penelitian ini, potensi usaha ternak ikan semakin terbuka, dan dapat mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah ikan yang jarang dapat dimanfaatkan.

Limbah ikan hasil pengasapan yang dilakukan warga Kenjeran, Bulak, Nambangan dan sekitarnya, biasanya dibiarkan menumpuk sebagai sampah, dan dapay menyebabkan pencemaran organik, menimbulkan bau kurang sedap, serta mengurangi nilai estetika lingkungan.

Penelitian sejak tahun 2012, yang diinisiasi Awik Puji Dyah Nurhayati mampu menyulap limbah ikan pengasapan menjadi pelet ikan berprotein tinggi. Bersama dua rekan dosen lainnya, yakni Edwin Setiawan dan Dewi Hidayati, Awik mencoba merekayasa limbah ikan tersebut di Laboratorium Zoologi dan Rekayasa Hewan, di Departemen Biologi ITS. Produk yang dihasilkannya ini kemudian disebut Zuper Food Fish (Z-Fosh).

Menurut salah seorang mahasiswa anggota tim penelitian, Bayu Laksono Putra, selama ini limbah ikan banyak dibuang ke laut, dan dapat menyebabkan pencemaran dan merusak ekosistem pantai. Limbah ikan yang biasanya dibuang berupa insang, ekor, dan jerohan.

“Padahal itu kan kaya protein dan dapat diolah menjadi pakan ikan bergizi serta bernilai ekonomis,” ujar Bayu.

Tim Z-Fosh, kata Bayu, menggunakan limbah hasil pengasapan ikan, keong sawah, dedak, tepung tapioka, vitamin konsentrat, daun pepaya, dan ragi tempe. Bahan-bahan itu kemudian dihancurkan dan dicampur menjadi satu adonan, hingga dapat dicetak menjadi bentuk pelet.

“Cetakan tersebut kemudian dikeringkan supaya tahan lama,” tambahnya.

Limbah ikan itu sebelumnya harus direbus dan dipisahkan lemaknya, setelah itu dikeringkan di oven. Sementara untuk keong sawah harus dicuci terlebih dahulu, kemudian dikukus dan dipisahkan dari cangkangnya.

“Ini tujuannya mengurangi zat beracun dan patogen, serta mengontrol kandungan senyawa aflatoksin agar tidak lebih dari 50 ppm,” imbuhnya.

Pelet ikan Z-Fosh kata Bayu, kini telah dipakai sebagai pakan ikan lele dumbo yang dikenal memiliki ketahanan tubuh lebih kuat dibanding ikan lain. Produk Z-Fosh dijual seharga Rp. 13.000 per kilogram, yang lebih murah daripada harga pakan lain di pasaran.

Keberadaan pelet ikan hasil pengolahan limbah ikan dapat mengurangi biaya membeli pakan para peternak ikan.

“Sekitar 60-70 persen dana ternak ikan itu digunakan untuk membeli pakan. Pelet Z-Fosh ini dapat digunakan sebagai upaya terobosan untuk penghematan biaya ternak ikan,” tandasnya.

Selanjutnya, tim Departemen Biologi sedang fokus pada tahap pengembangan dan perbaikan mutu produk, dimana pelet ikan hasil olahan limbah akan diproduksi dalam skala industri dan dipatenkan.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.