Pemuda Pelaku Penyerangan Gereja di Sleman, Dikenal Baik dan Sopan

Yovie Wicaksono - 13 February 2018
Rumah keluarga Suliono, dikunjungi Kades Kandangan Riyono bersama aparat desa (foto : Superradio/Fransiskus Wawan)

SR, Banyuwangi – Pelaku penyerangan dan pembacokan di Gereja Katolik St. Lidwina Sleman, Yogyakarta, Suliono (23) asal Dusun Krajan RT 002/ RW 001 Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, adalah sosok pemuda yang dikenal baik dan sopan.

Hal itu diakui oleh tokoh masyarakat Desa Kandangan yang juga mantan kepala desa tersebut, Ahmad Mobarok. Menurutnya, Suliono berasal dari keluarga baik-baik. Bahkan semasa kecilnya, Suliono dikenal sebagai anak yang baik dan sopan kepada para tetangganya. Kondisi Suliana berubah setelah dia sekolah di Palu, Sulawesi Tengah.

“Suliono pernah mengenyam pendidikan di SDN Kandangan, kemudian melanjutkan pendidikan di SMPN Pesanggaran, bahkan dia pernah mondok di Pondok Pesantren Ibnu Sina, di Dusun Njalen, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, yang diasuh oleh KH. Maskur Ali, Ketua PCNU Banyuwangi. Namun karena tidak kerasan dia hanya bertahan selama 6 bulan di pondokan tersebut,” ujar Ahmad Mobarok , yang merupakan pengurus ranting NU di kecamatan Pesanggaran.

Dikatakan juga oleh Mubarok, sebagai tetangga dari Suliono, dia mengaku kaget dengan kabar bahwa Suliono sekarang berubah sifatnya menjadi radikal. Dia mengungkapkan, Suliono berasal dari keluarga yang sederhana dan sangat baik di mata para tetangganya.

Hal senada juga diungkapkan oleh mantan guru SD Suliono, Sugiarti (45). Menurut Sugiarti, Suliono termasuk siswa yang pandai. Bahkan di mata pelajaran matematika Suliono termasuk sebagai siswa yang berprestasi.

Di tempat yang berbeda, Kepala Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran, Riyono, membenarkan bahwa Suliono adalah warga Dusun Krajan, Desa Kandangan. Menurutnya, setamat SMP, Suliono kemudian merantau ikut kakaknya di Palu. Bahkan dia pernah mengenyam pendidikan di SMAN Metaponda, Palu, Sulawesi Tengah. Setelah itu dia melanjutkan pendidikan di Universitas Tadulako mengambil jurusan peternakan.

“Namun karena di semester 2 saat dia kuliah nilainya merosot, maka beasiswa Bidik Misi yang didapat akhirnya dicabut, dan dia harus keluar dari perguruan tinggi tersebut,” ujar Riyono.

Menurut Riyono, setelah Suliono drop out dari Universitas Tadulako, informasi yang didapat dari keluarganya, Suliono mondok di Pondok Joko Lelono yang ada di Yogyakarta. Biaya selama dia mondok, Rp. 1 juta pertahun dia dapat dari kakaknya yang bekerja di Papua.

Dengan kejadian yang dialami Suliono, Riyono sebagai Kades langsung melakukan pendekatan kepada keluarga Suliono, dan memberikan motivasi dan semangat kepada ibu Suliono yang shock, ketika mendapatkan kabar bahwa Suliono melakukan aksi pembacokan dan pengerusakan gereja St. Lidwina, Sleman, Jogjakarta.

Dijelaskan juga oleh Riyono, ibu Suliono yang bernama Edi Susiyah sempat shock dan tidak ingin ditemui oleh siapapun. Bahkan ketika Super Radio akan menemuinya dia menutup diri di dalam rumah, bahkan sempat mendapat penolakan dari adik Suliono, Solikin agar tidak mengganggu bapak ibunya.(wan/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.