Pemuda ini Manfaatkan Limbah Kayu Menjadi Tas Unik

Petrus - 9 November 2017
Contoh beberapa tas dari limbah kayu Jati Belanda (foto : Superradio/Gayuh Satria)

SR, Ponorogo – Tangan terampil Hakim (26) terlihat sibuk merangkai potongan-potongan kayu menjadi sebuah tas. Sesekali ia nampak membasuh keringat yang mulai membasahi keningnya. Hakim tidak sendiri, dibantu istrinya, ia sibuk merapikan dan menyatukan setiap potong kayu menjadi tas unik pesanan pelanggannya dari Turki.

Tapi siapa sangka bahwa kayu yang dijadikan bahan membuat adalah kayu bekas peti kemas. Meski berupa kayu bekas, Hakim mampu memanfaatkan peluang secara baik. Kayu jenis Jati Belanda ini dipilih karena memiliki serat yang bagus.

“Memanfaatkan limbah yang ada, diolah jadi berbagai barang yang bermanfaat,” kata Hakim, warga Desa Sedarat, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo.

Selain pesanan dari Turki, tas kayu hasil buatan Hakim juga dikirim ke Jepang. Sementara di Indonesia, pasar tas kayu buatan Hakim sudah merambah tidak hanya di Pulau Jawa, tetapi juga di Sumatera dan Kalimantan.

“Saat ini selain dibantu istri, saya juga dibantu dua orang rekan kerja,” ujarnya.

Alumni Politeknik Seni Yogyakarta ini menjelaskan, produk tas unik dari limbah kayu karyanya ini dibanderol mulai harga Rp. 4.500 hingga ratusan ribu rupiah. Dalam sebulan, ratusan pesanan selalu datang, mulai dari tas kayu, talenan, siluet hiasan dinding, siluet jam dinding, gantungan kunci, serta berbagai souvenir lainnya.

“Pesanan kami layani dari media sosial instagram,” jelasnya.

Produk hasil karya Hakim ini diberi nama kadoku/pdcraft ini. Selain memiliki bengkel di Ponorogo, ia juga memiliki bengkel di Yogyakarta yang kini juga tengah dipegang oleh dua orang rekan kerjanya.

“Cetakan siluet kami lebih awet dan tidak mudah luntur,” terangnya.

Karena memilih teknik cetak CMYK dengan finishing soft glossy, untuk pembuatan siluet sendiri, Hakim membutuhkan waktu satu hingga dua hari tergantung desain yang sudah fix, langsung dicetak di permukaan kayu.

Usaha yang digelutinya sejak dua tahun terakhir ini bukannya tanpa kendala. Saat ini ia merasa kesulitan mencari bahan baku kayu jenis jati belanda di Ponorogo, kalaupun ada harganya mahal. Akhirnya, ia memutuskan mendatangkan bahan baku dari Yogyakarta.

“Selain itu, kadang pelanggan mengirim foto dengan resolusi rendah, jadi susah buat desain siluetnya,” tuturnya.

Sedangkan untuk tas kayu, Hakim membutuhkan waktu sekitar satu bulan karena prosesnya lebih rumit, apalagi saat membuat tutup dan bagian dalam tas. Dalam sebulan, terdapat sekitar 50 buah tas kayu yang dipesan.

“Tas kayu harganya mulai dari Rp. 460 ribu sampai Rp. 550 ribu,” imbuhnya.

Kedepan, Hakim ingin lebih mengembangkan usahanya dengan lebih baik lagi, dengan bahan selain kayu.

“Ingin membuat produk unik berbahan dasar limbah lainnya, agar menjadi barang bernilai tinggi,” pungkasnya.(gs/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.