Pemprov Jawa Timur Terus Upayakan Penurunan Angka Balita Gizi Buruk

Petrus - 15 July 2017
Timbang balita serentak di seluruh posyandu se Surabaya (foto : Superradio/Srilambang)

SR, Surabaya – Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus berupaya menurunkan angka balita gizi buruk, melalui upaya pemantauan dan penanganan kasus balita gizi buruk yang melibatkan semua pihak.

Kepala Biro Humas dan Protokol Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Benny Sampirwanto mengatakan, di Jawa Timur menurut publikasi media terdapat enam daerah di Jawa Timur dengan angka balita gizi buruk kronis atau parah. Enam daerah itu antara lain Sumenep, Sampang, Probolinggo, Lamongan, Jember, dan Bangkalan.

Penguatan pemantauan status gizi masyarakat melalui posyandu dan pemberian makanan tambahan untuk balita dan ibu hamil yang memiliki masalah gizi kurang, terus dilakukan bersama dengan perkuatan layanan pemulihan gizi tingkat layanan primer maupun rujukan.

Berdasarkan hasil survei pemantauan status gizi (PSG) tahun 2014-2016, persentase status gizi stunting di Jawa Timur tercatat sebesar 29 persen untuk usia 0-59 bulan pada tahun 2014. Jumlah tersebut menurun menjadi 27 persen pada tahun 2015, dan turun lagi pada tahun 2016 menjadi 26,1 persen.

“Pemprov Jatim terus berupaya secara serius untuk mengurangi stunting ini,” ujar Benny.

Data PSG nasional terakhir, yaitu tahun 2016 menyebutkan daerah di Jawa Timur dengan stunting tinggi atau prevalensi lebih 40 persen hanya di Kabupaten Sampang sebesar 44 persen. Sedangkan lima daerah lain, yaitu Jember, Sumenep, dan Bangkalan dalam kategori persentase sedang, rentang antara 30 sampai dengan 39,2 persen.

Dua daerah lain, yakni Kabupaten Probolinggo dan Lamongan masuk kategori ringan, yakni dalam rentang 20-29 persen. Probolinggo tercata sebesar 25,5 persen dan Lamongan 25,2 persen.

“Jember sebesar 39,2 persen, Sumenep 32,5 persen dan Bangkalan sebesar 32,1 persen,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Kohar Hari Santoso mengatakan, Pemprov Jawa Timur terus berkomitmen menanggulangi stunting di beberapa daerah di Jawa Timur. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memberikan sosialisasi gizi seimbang, khususnya bagi ibu hamil di 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur.

Kurang gizi kronis yang berdampak pada stunting terjadi pada kurun waktu lama, yakni 1.000 hari pertama kehidupan. Ini terjadi sejak bayi dalam kandungan hingga usia 2 tahun, akibat asupan gizi yang tidak optimal pada anak. Jika kondisi gizi anak sampai masuk kepada gizi buruk, maka akan berdampak terhadap berat badan.

Dinkes Provinsi Jawa Timur secara rutin telah memberikan tablet penambah darah kepada ibu hamil, dan melakukan promosi Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI Ekslusif. Selain itu juga diberikan makanan tambahan pada ibu hamil dan balita.

“Pemerintah berupaya memberi konseling pentingnya makanan bayi dan anak, hingga fortifikasi besi serta taburian kepada balita kurang gizi. Bersama tim penggerak PKK Jatim, kami juga rutin melakukan pemantauan terhadap pertumbuhan disemua posyandu yang tersebar di kurang lebih 46.000 posyandu,” terang Kohar.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.