Pemkot Surabaya Terus Pantau Kawasan Eks Lokalisasi dari Penyebaran HIV

Petrus - 4 May 2017
Ilustrasi. Situasi di salah satu wisma di lokalisasi prostitusi Dolly sehari menjelang penutupan (foto : Superradio/Srilambang)

SR, Surabaya – Pemerintah Kota Surabaya terus melakukan pengawasan terhadap kawasan bekas lokalisasi pelacuran di Surabaya, diantaranya eks lokalisasi Dolly. Pengawasan tetap dilakukan meski Pemerintah Kota Surabaya telah melakukan penutupan dan mengalih fungsikan tempat itu menjadi tempat pelatihan kewirausahaan dan sentra usaha kecil yang dikelola masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Febria Rahmanita mengatakan, pasca penutupan lokalisasi Dolly pada pertengahan 2014 silam, menyusul sebelumnya lokalisasi Sememi dan Dupak Bangunsari, Pemerintah Kota Surabaya terus melakukan monitoring dengan melakukan pemeriksaan HIV kepada mereka yang ‘terjaring’ di kawasan tersebut. Termasuk juga melakukan pemeriksaan kepada ibu hamil, sebagai antisipasi dan pencegahan dini penyebaran HIV.

“Kami terus melakukan monitoring di kawasan eks-lokalisasi, termasuk melakukan penyuluhan di Kelurahan dan juga tempat-tempat umum seperti Terminal. Kami juga meningkatkan pemahaman kepada warga agar tidak ada stigma negatif dan diskriminasi terhadap pengidap HIV,” jelas Febria Rahmanita.

Febria menjelaskan, jumlah pengidap HIV yang ada di Surabaya terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Dari jumlah 935 pengidap HIV pada 2014, turun menjadi 933 pada 2015, dan kembali turun pada 2016 menjadi 923 orang. Penurunan tersebut salah satunya karena adanya upaya Pemerintah Kota Surabaya untuk memulangkan wanita tuna sosial (WTS) ke daerah asalnya, yang mayoritas berasal dari luar Surabaya.

“Jumlah tersebut diketahui dari hasil pemeriksaan di Puskesmas dan juga hasil razia yang dilakukan Satpol PP di kawasan eks-lokalisasi ataupun di kos-kosan yang awalnya positif narkoba kemudian kami tes HIV. Tidak semuanya merupakan WTS, ada juga ibu rumah tangga, karyawan, buruh kasar juga seniman,” lanjut Febria.

Jumlah penyandang HIV di Surabaya memang terbilang masih cukup tinggi. Dan itu tidak lepas dari fakta banyaknya jumlah penduduk Surabaya, serta semakin bertambahnya warga pendatang. Apalagi jumlah warga Surabaya dan luar Surabaya diketahui satu berbanding 10.

“Semakin banyak penyandang HIV ditemukan, itu berarti surveillance (pengawasan) kita bagus. Dan yang terpenting adalah kami terus melakukan pendampingan dengan dipantau minum obatnya atau bisa kita rujuk ke rumah sakit ,” ujar Febria.

Di Surabaya ada sembilan rumah sakit yang melayani pasien pengidap HIV. Diantaranya RSUD Soewandhie, RSUD Bakti Darma Husada (BDH), RSAL Rumah Sakit Bhayangkara dan RS Unair. Selain itu juga ada tujuh Puskesmas yakni Putat, Perak Timur, Sememi, Dupak, Jagir, Kedurus dan Kedung Doro

“Itu untuk pengobatan ARF (Anti Retrofarial). Kalau untuk pemeriksaan sudah bisa ke seluruh Puskesmas. Kami punya 63 Puskesmas dan kami punya data plus alamat penyandang HIV,” pungkas Febria.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.