Pemkot Surabaya Bangun Ratusan Lapangan, Agar Anak Muda Berprestasi dan Mencegah Kenakalan Remaja

Petrus - 21 January 2018
Lapangan Thor, salah satu sarana olah raga di Surabaya berstandar internasional (foto : Humas Pemkot Surabaya)

SR, Surabaya – Ratusan lapangan serta sarana dan prasaran olah raga telah dibangun di Surabaya, baik lapangan yang bertaraf nasional maupun yang bertaraf Internasional. Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Surabaya Afghani Wardhana mengatakan, selama dipimpin oleh Wali Kota Tri Rismaharini, total ada 397 lapangan olah raga yang dibangun.

“Pembangunan 397 lapangan itu bertahap sejak tahun 2011-2017. Di tahun 2018 ini, kami berencana menambah 76 lapangan lagi,” kata Afghani, Minggu (21/1/2018).

Rinciannya, pada tahun 2011 membangun 37 lapangan, 2012 membangun 38 lapangan, 2013 membangun 28 lapangan, 2014 membangun 82 lapangan, 2015 membangun 65 lapangan, 2016 membangun 90 lapangan, dan tahun 2017 membangun 54 lapangan.

Jika dirinci lebih detail, Pemkot Surabaya telah membangun lapangan futsal sebanyak 116 lapangan, sepak bola 35 lapangan, basket 102 lapangan, volley 99 lapangan, bulutangkis 20 lapangan, tenis 4 lapangan, wall climbing 11 lapangan, dan lompat jauh 2 lapangan. Pemkot juga membangun satu lintasan atlet lapangan Thor, satu lapangan sepatu roda, satu lapangan hockey, satu lapangan softball, serta satu sirkuit balap motor dan drag race.

Selain membangun lapangan, dua periode kepemimpinan Wali Kota Tri Rismharini telah melengkapi sarana pendukung di beberapa lapangan olahraga. Tercatat ada 8 lapangan yang dipasang rumput sintetis, 17 yang dipasang jogging track dan pagar, 10 lapangan yang dipasang pagar dan peninggian lapangan serta sarana pendukung lainnya, dan 5 lapangan yang diperbaiki dengan mengecat ulang.

“Mimpi kami ke depannya, tentu lebih banyak lagi lapangan yang dipasangi rumput sintetis,” ujar Afghani.

Pada tahun 2018 ini, rencananya akan dibangun beberapa sarana dan prasarana olahraga, seperti lapangan futsal sebanyak 19 lapangan, bulutangkis 19 lapangan, bola volley 15 lapangan, dan bola basket 23 lapangan.

“Semua lapangan yang sudah dibangun dan akan dibangun itu, tersebar di Surabaya Timur, Barat, Selatan, utara dan Surabaya Pusat,” ujarnya.

Pemkot Surabaya, kata Afghani, tidak hanya fokus pada pembangunan sarana dan prasarana olahraga, tapi juga akan melakukan sejumlah renovasi dan pengembangan lapangan. Harapannya, lapangan-lapangan yang masih bertaraf nasional dapat dinaikkan kualitasnya menjadi taraf internasional.

“Itu harapan Bu Risma. Jadi, nanti kalau ada event-event nasional maupun internasional, bisa menggunakan lapangan yang telah bertaraf internasional itu,” katanya.

Saat ini ada beberapa lapangan di Surabaya yang telah bertaraf internasional, yaitu lapangan hockey, softball, lintasan atlet lapangan Thor, sirkuit balap motor dan drag race, serta lapangan stadion Gelora Bung Tomo.

“Kalau stadion Gelora Bung Tomo itu sudah mendapatkan apresiasi dari FIFA, terutama kualitas rumputnya yang paling bagus dan istimewa,” lanjutnya.

Melalui pembangunan ratusan lapangan itu, diharapkan pembinaan kepada pemuda dan para atlet Surabaya bisa semakin intensif. Dispora, KONI dan berbagai cabang olahraga bisa semakin sinergi dalam membina para atlet agar selalu mengukir prestasi.

“Jadi, fakta menunjukkan bahwa semakin banyak lapangan yang kami bangun, maka semakin banyak pula prestasi yang diraih oleh para pemuda dan pemudi Surabaya,” tegasnya.

Saat perhelatan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur yang diikuti oleh 38 kabupaten atau kota se-Jawa Timur, Kota Surabaya selalu meraih medali terbanyak. Bahkan saat Pekan Olahraga Nasional (PON), lebih dari 70 persen atlet Jawa Timur berasal dari Surabaya.

“Ini bukti bahwa pembangunan dan pembinaan ternyata diikuti pula oleh prestasi yang baik,” ujarnya.

Pembangunan ratusan lapangan itu, ujar Afghani, juga berfungsi untuk mencegah kenakalan remaja di Surabaya, penyalahgunaan narkoba dan masalah sosial lainnya. Sehingga keberadaan lapangan olah raga di Surabaya dapat dioptimalkan dengan baik, tidak hanya sekedar untuk bermain atau menyalurkan bakat dan hobi.

“Jika udai sekolah anak-anak main ke lapangan, lalu pulang ke rumah dilanjutkan dengan belajar dan istirahat, maka tidak ada celah waktu lagi untuk berbuat dan memikirkan hal-hal yang negatif. Ini yang dicita-citakan Bu Risma,” pungkasnya.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.