Pemerintah akan Remajakan 50.000 Hektare Perkebunan Karet

Fena Olyvira - 26 February 2019
Ilustrasi. Foto : (Antara)

SR, Jakarta – Pemerintah Indonesia berkomitmen melakukan peremajaan (replanting) karet alam hingga 50.000 hektare per tahun sebagai salah satu kebijakan yang dicapai dalam pertemuan antarnegara produsen karet alam dunia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan, peremajaan karet alam menjadi kebijakan yang diambil untuk jangka panjang dari hasil pertemuan khusus International Tripartite Rubber Council (ITRC) yang diinisiasi tiga negara produsen karet, yakni Indonesia, Malaysia, dan Thailand.

“Karet sebenarnya belum pernah dilakukan peremajaan secara sistematik sejak ditanam 100 tahun yang lalu. Pemerintah sudah menyiapkan langkah-langkah untuk mulai melakukan peremajaan ini. Ke depan kami akan menggiring sampai 50.000 hektare,” kata Darmin saat konferensi pers di Kantor Kemenko Perekonomian Jakarta, Senin (25/2/2019).

Melansir Antara, Darmin menjelaskan, program peremajaan perkebunan karet telah dilakukan oleh Kementerian Pertanian, namun baru mencapai sekitar 6.000 hektare dari total lahan perkebunan karet Indonesia mencapai 3,6 juta hektare.

Oleh karena itu, pemerintah akan melakukan percepatan peremajaan perkebunan karet sehingga bisa mencapai 50.000 hekare per tahun.

Ada pun peremajaan karet alam melalui Supply Management Scheme (SMS) telah disepakati tiga negara produsen utama karet dunia yang tergabung dalam (ITRC).

Tidak hanya Indonesia, Thailand berencana mengoptimalkan peremajaan pohon karet sebesar 65.000 hektare per tahun, sedangkan Malaysia sebesar 25.000 hektare per tahun

Skema SMS ini berperan penting dalam pencapaian titik keseimbangan antara pasokan dan permintaan karet alam dengan mengakselerasi penanaman kembali karet alam.

Untuk mencegah agar tidak terjadi kelebihan pasokan (oversupply) di kemudian hari, Pemerintah Indonesia menetapkan bahwa hanya 60 persen lahan peremajaan yang ditanami karet, sedangkan sisanya ditanami oleh komoditas perkebunan lainnya, seperti kakao maupun tanaman hortikultura.

“Dengan bibit baru, agar produksinya tidak meledak, masyarakat silakan pilih tanaman apa, bisa kopi atau cokelat, atau tanaman ekspor lainnya. Kalau kami bisa meremajakan cukup besar setiap tahun, kami bisa mengurangi produksi sementara,” kata Darmin.

Ada pun untuk mengatasi harga karet alam yang berada di angka rendah sepanjang 2018 hingga awal 2019, ketiga negara yakni Thailand, Indonesia dan Malaysia memutuskan ada tiga kebijakan yang akan diterapkan.

Kebijakan tersebut dilakukan untuk jangka pendek dengan mengatur jumlah ekspor karet alam, jangka menengah dengan peningkatan penggunaan karet alam di dalam negeri dan jangka panjang melalui peremajaan (replanting) karet alam. (*/ant/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.