Pemanfaatan Limbah Kulit Kerang Menjadi Kerajinan Hingga Pemecah Ombak

Petrus - 11 February 2017
Desain pemecah ombak dan penataan kampung nelayan yang dibuat nelayan Bulak, Surabaya (foto : Superradio/Srilambang)

SR, Surabaya – Kerang merupakan salah satu komoditas tangkapan nelayan di Kenjeran dan Bulak, selain ikan dan udang. Selain dijual secara langsung, kerang juga sering dijadikan makanan olahan yang lebih bernilai.

Namun siapa sangka kerang juga menghasilkan limbah, yakni dari kulit kerang yang sduah tidak dipakai. Hasil tangkapan kerang oleh nelayan yang tinggal di dekat kaki jembatan Suramadu, setiap minggunya menyisakan sekitar 4 truk atau 24 ton limbah kulit kerang. Jumlah sebanyak ini tentu akan menjadi masalah baru bial tidak dicarikan solusi.

Menurut Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf, diperlukan sinergi natara nelayan dengan perguruan tinggu, untuk melakukan penelitian dan kajian mengenai pemanfaatan limbah kulit kerang. Supaya limbah kulit kerang tidak hanya menjadi barang tidak berguna, maka dapat dimanfaatkan untuk berbagai produk. Bahkan sisa produk yang sudah tidak dapat dimanfaatkan dapat dijadikan campuran bahan bangunan.

“Kita bisa manfaatkan itu sebagai campuran bahan bangunan, untuk ngecor, atau bahan campuran batu bata. Kita akan memberikan mesin untuk menghancurkan kulit kerang itu,” kata Saifullah Yusuf.

Dari 24 ton limbah kulit kerang, ternyata baru 10 persen yang dapat dimanfaatkan menjadi kerajinan dan hiasan yang bernilai lebih tinggi. Sedangkan sisanya atau 90 persen kebanyakan dibuang begitu saja.

“Yang bisa dibuat kerajinan atau hiasan oleh warga biasanya dijual di pantai Kenjeran,” ujarnya.

Pemanfaatan limbah kulit kerang menjadi pemikiran pemerintah bersama nelayan, sehingga melalui kegiatan pengolahan limbah ini dapat memberikan penambahan ekonomi saat ombak tinggi dan angin kencang menghalangi nelayan untuk melaut.

Selain untuk bahan kerajinan dan hiasan, limbah kerang juga bisa digunakan untuk bahan pembuat pemecah ombak. Hal ini untuk mengantisipasi gelombang pasang air laut, yang menyebabkan kampung nelayan tergenang banjir rob hingga 4 hari.

“Bu Walikota berencana mau menjadikan tanggul, lalu dibuat pemecah gelombang. Tahun ini rencananya untuk pemecah ombak,” kata Joestamadji, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya.

Bila gelombang tinggi dan angin kencang datang, nelayan dipastikan tidak akan berani mencari ikan di laut, karena gelombang tinggi seringkali mengakibatkan perahu nelayan menjadi rusak.

“Enak-enak tidur ada ombak besar dan masuk kampung, jadi belum bisa tenang kalau cuaca buruk dan ombak tinggi datang,” ungkap Sarmuin.

Keberadaan pemecah ombak menurut Dewan Nasional Walhi Jawa Timur, Bambang Catur Nusantara, merupakan kebutuhan masyarakat nelayan yang perlu dikomunikasikan dengan pemerintah daerah. Bahkan nelayan sudah membuat maket perkampungan nelayan dengan model pemecah ombak.

“Pemecah ombak itu gambaran sesuai pengalaman nelayan, untuk mereduksi dampak perubahan iklim. Ini perlu dikomunikasikan dengan pemerintah kota yang telah memiliki desain sendiri,” pungkas Bambang Catur.(ptr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.